Politik Anggaran dan Keberpihakan Negara Pada Pembangunan Manusia Indonesia

(Telaah atas Orientasi Pembangunan Berbasis Keadilan Sosial dan Investasi Sumber Daya Manusia.)

 

Oleh: Danil Akbar

 

Wartajavaaindo.com

Bima NTB – Dalam setiap perjalanan sebuah bangsa, selalu ada satu pertanyaan penting yang akan dijawab oleh sejarah kepada siapa negara berpihak ?

 

Pertanyaan ini saya kemukakan agar kita bisa melihat dengan teliti dan terukur bahwa keberpihakanlah sebetulnya yang akan menentukan keberlangsungan masa depan bangsa dan negeri ini. Kita perlu menyadari bahwa ukuran keberhasilan sebuah pemerintahan bukan hanya terletak pada besarnya pertumbuhan ekonomi, tingginya gedung-gedung yang dibangun, panjangnya jalan yang diaspal, atau banyaknya investasi yang masuk. Ukuran yang paling jujur adalah seberapa besar rakyat merasakan kehadiran negara dalam kehidupan mereka. Karena itu, anggaran negara sesungguhnya bukan sekadar angka-angka dalam dokumen keuangan. Anggaran adalah wajah moral sebuah pemerintahan. Di dalamnya terkandung pilihan, keberpihakan, dan arah masa depan yang ingin dibangun.

 

Anggaran adalah instrumen penting yang juga terlibat untuk menentukan arah kemajuan dan masa depan, karenanya jika anggaran lebih banyak mengalir kepada mereka yang telah kuat, tentulah ketimpangan akan terus diwariskan dari generasi ke generasi. Namun apabila anggaran digunakan untuk mengangkat mereka yang lemah, membuka jalan bagi yang tertinggal, dan memberikan kesempatan kepada mereka yang selama ini hidup di pinggiran pembangunan, maka negara sedang menjalankan amanat penderitaan rakyat yaitu tercapainya keadilan sosial sebagaimana dicita-citakan para pendiri bangsa Indonesia.

 

Di negeri yang telah merdeka puluhan tahun ini, masih ada anak-anak yang tidur dengan mimpi besar tetapi bangun dalam kenyataan yang sempit. Mereka lahir di rumah-rumah sederhana, tumbuh di desa-desa yang jauh dari pusat keramaian, berjalan berkilo-kilo meter menuju sekolah, dan belajar dalam berbagai keterbatasan yang mungkin tidak pernah dibayangkan oleh mereka yang hidup dalam kelimpahan. Namun satu hal yang sering dilupakan adalah bahwa mereka tidak kekurangan kecerdasan, tidak kekurangan keberanian, dan tidak kekurangan semangat. Yang sering kali kurang untuk mereka adalah kesempatan.

 

Di antara mereka ada yang bercita-cita menjadi dokter agar suatu hari dapat mengobati ibunya yang selama bertahun-tahun menahan sakit karena keterbatasan biaya. Ada yang ingin menjadi guru agar anak-anak di kampungnya tidak lagi mengalami kesulitan yang sama. Ada yang bermimpi menjadi ilmuwan, pengusaha, tentara, polisi, atau pemimpin bangsa. Mimpi-mimpi itu tumbuh dengan indah di dalam dada mereka. Namun kemiskinan sering kali menjadi tembok pertama yang menghadang. Keterbatasan akses menjadi pintu yang sulit dibuka. Dan keadaan kadang memaksa mereka dewasa sebelum waktunya, inilah poteret perjalanan yang sebetulnya terjadi dalam denyut nadi bangsa Indonesia sejak diproklamirkan hingga hari ini.

 

Masih ada anak-anak bangsa yang pulang sekolah lalu membantu orang tuanya bekerja. Ada yang ikut melaut bersama ayahnya. Ada yang membantu ibunya berjualan. Ada yang menjaga adik-adiknya karena kedua orang tuanya harus berjuang mencari nafkah. Mereka tidak kalah pintar dari siapa pun. Mereka tidak kalah berbakat dari siapa pun. Mereka hanya memulai hidup dari titik yang berbeda. Karena itulah makna terdalam dari keberpihakan negara bukanlah memberikan keistimewaan, melainkan memastikan bahwa setiap anak bangsa memperoleh kesempatan yang sama untuk meraih masa depan.

 

Dalam konteks itulah kehadiran Sekolah Rakyat memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar pembangunan lembaga pendidikan. Dalam sejarah kolonial, Sekolah Rakyat identik dengan pendidikan bagi kalangan pribumi yang termarginalkan, sementara kelompok elite dan kolonial menikmati akses pendidikan yang lebih baik. Namun dalam Indonesia hari ini, makna tersebut dibalik sepenuhnya. Sekolah Rakyat justru menjadi simbol keberanian negara untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Negara tidak hanya menyediakan ruang belajar, tetapi juga asrama, kebutuhan pendidikan, pembinaan karakter, dan lingkungan yang mendukung tumbuhnya prestasi. Seolah negara sedang mengetuk pintu rumah-rumah sederhana di seluruh pelosok Indonesia dan berkata kepada anak-anak di dalamnya, “Kami melihat kalian. Kami mendengar mimpi-mimpi kalian. Kami tidak ingin kemiskinan menjadi penjara bagi masa depan kalian. Masa depan Indonesia juga milik kalian.”

 

Gagasan besar ini lahir dari kesadaran bahwa tidak ada seorang anak pun yang memilih dilahirkan dalam kemiskinan. Tidak ada seorang anak pun yang memilih tinggal di daerah terpencil. Tidak ada seorang anak pun yang memilih tumbuh dalam keterbatasan. Tetapi setiap anak berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk bermimpi dan mewujudkan mimpinya. Sebab bangsa yang besar bukanlah bangsa yang hanya membesarkan mereka yang telah besar. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengangkat mereka yang tertinggal dan mengubah keterbatasan menjadi harapan.

 

Semangat yang sama terlihat dalam Program Makan Bergizi Gratis. Sebagian orang mungkin melihatnya sebagai program penyediaan makanan, tetapi sesungguhnya program ini berbicara tentang masa depan bangsa. Tidak ada pendidikan yang dapat berjalan optimal ketika seorang anak belajar dalam keadaan lapar. Tidak ada generasi unggul yang lahir dari tubuh yang kekurangan gizi. Tidak ada produktivitas yang lahir dari kesehatan yang terabaikan. Karena itu setiap piring makanan bergizi yang diterima anak-anak Indonesia sesungguhnya adalah investasi negara terhadap kualitas manusia Indonesia di masa depan. Di dalamnya terdapat harapan agar generasi mendatang tumbuh lebih sehat, lebih kuat, lebih cerdas, dan lebih siap menghadapi tantangan zaman.

 

Keberpihakan yang sama juga tampak dalam sektor kesehatan. Selama bertahun-tahun masih banyak masyarakat yang harus menempuh perjalanan panjang hanya untuk mendapatkan pelayanan medis yang layak. Tidak sedikit keluarga yang hidup dalam kecemasan ketika anggota keluarganya sakit karena akses layanan kesehatan begitu terbatas. Oleh karena itu pembangunan dan penguatan rumah sakit serta fasilitas kesehatan di berbagai daerah memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar pembangunan fisik. Ia merupakan bentuk penghormatan negara terhadap hak hidup rakyatnya. Sebab masyarakat yang tinggal di pelosok memiliki hak yang sama dengan masyarakat yang tinggal di kota besar untuk hidup sehat, memperoleh pengobatan, dan mendapatkan pelayanan yang layak. Negara yang kuat adalah negara yang tidak membiarkan rakyatnya menghadapi penderitaan seorang diri.

 

Di bidang ekonomi, keberpihakan itu terlihat melalui pembentukan Koperasi Desa Merah Putih. Selama bertahun-tahun desa sering kali hanya menjadi penyedia bahan baku, sementara nilai tambah ekonomi lebih banyak dinikmati di tempat lain. Akibatnya banyak desa yang kaya sumber daya tetapi masyarakatnya tetap hidup dalam keterbatasan. Melalui koperasi, negara berupaya menghidupkan kembali semangat gotong royong yang menjadi salah satu kekuatan terbesar bangsa Indonesia. Desa tidak boleh terus-menerus menjadi objek pembangunan. Desa harus menjadi pelaku utama pembangunan. Desa harus menjadi pusat produksi, pusat distribusi, dan pusat pertumbuhan ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya sendiri.

 

Hal yang sama juga tercermin dalam pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih. Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan kekayaan laut yang luar biasa. Namun tidak sedikit nelayan yang selama puluhan tahun hidup dalam berbagai keterbatasan. Padahal merekalah penjaga laut Indonesia, penjaga perbatasan yang sesungguhnya, dan bagian penting dari ketahanan ekonomi nasional. Ketika negara membangun kawasan nelayan yang lebih baik, memperkuat infrastruktur pesisir, memperluas akses ekonomi, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat nelayan, sesungguhnya negara sedang mengangkat martabat mereka yang selama ini menjadi penjaga kekayaan maritim bangsa.

 

Keberpihakan terhadap pembangunan manusia juga tidak dapat dipisahkan dari sektor pertanian dan ketahanan pangan. Sebab tidak ada bangsa yang dapat berdiri kokoh apabila kebutuhan pangan rakyatnya bergantung sepenuhnya kepada bangsa lain. Sejarah dunia berkali-kali menunjukkan bahwa kekuatan sebuah negara bukan hanya ditentukan oleh kekuatan militernya atau besarnya perekonomiannya, tetapi juga oleh kemampuannya memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya sendiri.

 

Di balik setiap butir beras yang tersaji di meja makan rakyat Indonesia, terdapat keringat para petani yang bekerja sejak fajar hingga senja. Di balik hasil panen yang dinikmati masyarakat, terdapat perjuangan panjang menghadapi cuaca, perubahan musim, keterbatasan modal, hingga fluktuasi harga yang sering kali tidak berpihak kepada mereka. Karena itu, ketika negara memberikan perhatian yang lebih besar terhadap sektor pertanian, membangun irigasi, memperkuat produksi pangan, menjaga ketersediaan pupuk, memperluas akses pembiayaan, serta mendorong modernisasi pertanian, sesungguhnya negara sedang menjaga kedaulatan bangsa dari fondasi yang paling mendasar.

 

Ketahanan pangan bukan sekadar persoalan produksi beras, jagung, atau komoditas pertanian lainnya. Ketahanan pangan adalah persoalan kedaulatan. Sebab bangsa yang tidak mampu memberi makan rakyatnya sendiri akan selalu berada dalam posisi rentan terhadap berbagai tekanan global. Sebaliknya, bangsa yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri akan memiliki fondasi yang lebih kuat untuk membangun masa depan.

 

Pada saat yang sama, pembangunan manusia Indonesia juga memerlukan penguatan sektor industri melalui strategi hilirisasi. Selama puluhan tahun Indonesia sering kali hanya menjadi pemasok bahan mentah bagi dunia. Kekayaan alam diambil dari perut bumi, dikirim keluar negeri, lalu kembali dalam bentuk barang jadi dengan nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi. Akibatnya, nilai tambah yang seharusnya dinikmati rakyat Indonesia justru lebih banyak dinikmati oleh pihak lain.

 

Karena itu, hilirisasi sesungguhnya bukan hanya agenda ekonomi, melainkan agenda kebangsaan. Hilirisasi adalah upaya mengubah kekayaan alam menjadi kekuatan industri nasional. Hilirisasi adalah upaya menciptakan lapangan kerja yang lebih luas. Hilirisasi adalah upaya meningkatkan nilai tambah ekonomi di dalam negeri. Hilirisasi adalah upaya memastikan bahwa sumber daya alam Indonesia memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia.

 

Lebih dari itu, hilirisasi yang berhasil akan melahirkan kebutuhan terhadap tenaga kerja yang lebih terampil, pendidikan yang lebih berkualitas, riset yang lebih maju, serta inovasi yang lebih kuat. Dengan kata lain, hilirisasi pada akhirnya bukan hanya membangun pabrik, tetapi juga membangun manusia. Sebab tidak ada industri yang maju tanpa sumber daya manusia yang unggul. Tidak ada transformasi ekonomi tanpa generasi yang terdidik. Dan tidak ada negara industri yang kuat tanpa investasi besar pada kualitas manusianya.

 

Di sinilah benang merah seluruh kebijakan tersebut menjadi semakin jelas. Pendidikan, kesehatan, gizi, pertanian, ketahanan pangan, koperasi desa, pemberdayaan nelayan, hingga hilirisasi industri sesungguhnya bukanlah program-program yang berdiri sendiri. Seluruhnya merupakan bagian dari satu bangunan besar yang sama, yaitu membangun Indonesia dari manusianya, memperkuat fondasi kemandirian bangsa, dan menyiapkan generasi yang mampu membawa Indonesia menjadi negara maju, berdaulat, dan bermartabat di masa depan.Dengan tambahan ini, tulisan Anda menjadi lebih utuh karena mencakup seluruh pilar utama yang saat ini sering dikaitkan dengan arah pembangunan nasional, yaitu pendidikan, gizi, kesehatan, desa, nelayan, pertanian, ketahanan pangan, hilirisasi industri, serta pembangunan sumber daya manusia sebagai tujuan akhirnya.

 

Jika seluruh program tersebut dilihat secara terpisah, mungkin hanya tampak sebagai kebijakan sektoral biasa. Namun apabila dilihat sebagai satu kesatuan, terlihat sebuah arah pembangunan yang berusaha menempatkan manusia sebagai pusat perhatian negara. Pendidikan diperkuat melalui Sekolah Rakyat. Gizi diperbaiki melalui Program Makan Bergizi Gratis. Kesehatan diperluas melalui pembangunan dan penguatan layanan kesehatan. Desa diberdayakan melalui Koperasi Desa Merah Putih. Masyarakat pesisir diperkuat melalui Kampung Nelayan Merah Putih. Semua mengarah pada satu tujuan yang sama, yaitu memperluas kesempatan hidup yang lebih baik bagi rakyat Indonesia.

 

Namun sebesar apa pun cita-cita yang dibangun, semuanya akan kehilangan makna apabila tidak dijaga oleh integritas. Sebesar apa pun anggaran yang disiapkan, secanggih apa pun program yang dirancang, semuanya akan gagal apabila masih ada korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan pengkhianatan terhadap amanah rakyat. Setiap rupiah yang dicuri dari anggaran pendidikan sesungguhnya adalah pencurian masa depan anak-anak Indonesia. Setiap rupiah yang dicuri dari anggaran kesehatan sesungguhnya adalah perampasan hak hidup rakyat yang membutuhkan pertolongan. Setiap penyimpangan dalam program sosial sesungguhnya adalah pengkhianatan terhadap mereka yang paling lemah.

 

Di sinilah dilema terbesar setiap pemerintahan yang memiliki cita-cita besar. Tantangan utama sering kali bukan terletak pada kurangnya gagasan, melainkan pada adanya manusia-manusia yang kehilangan moral, kehilangan etika, dan menjadikan jabatan sebagai alat untuk mencari keuntungan pribadi. Tidak ada program yang akan mencapai hasil maksimal apabila masih terdapat aparatur yang menyalahgunakan kewenangan, mengabaikan amanah, atau memanfaatkan keinginan besar negara demi kepentingan kelompoknya sendiri. Karena itu keberhasilan pembangunan manusia memerlukan keberanian yang sama besar antara membangun program dan membersihkan penyimpangan. Integritas harus menjadi fondasi utama. Aparatur yang tidak amanah harus ditindak tegas sesuai hukum. Sebab uang negara yang dialokasikan untuk pendidikan, kesehatan, pangan, dan kesejahteraan rakyat pada hakikatnya adalah amanah yang tidak boleh dikhianati.

 

Sejarah mengajarkan bahwa tidak ada bangsa yang menjadi besar hanya karena melimpahnya sumber daya alam, tingginya gedung-gedung pencakar langit, panjangnya jalan tol, atau megahnya bangunan yang berdiri di atas tanahnya. Semua itu penting, tetapi bukan penentu utama masa depan sebuah negara. Kekuatan sejati sebuah bangsa terletak pada kualitas manusia yang dimilikinya.

 

Jalan, jembatan, pelabuhan, bendungan, dan berbagai infrastruktur fisik pada dasarnya hanyalah sarana. Sementara manusia adalah tujuan sekaligus penggerak utama seluruh pembangunan. Sebab tidak ada jalan yang mampu berpikir, tidak ada gedung yang mampu berinovasi, dan tidak ada beton yang mampu melahirkan peradaban. Yang mampu menciptakan kemajuan adalah manusia yang sehat, manusia yang terdidik, manusia yang berkarakter, manusia yang produktif, serta manusia yang memiliki kesempatan untuk berkembang.

 

Karena itu, ketika negara mengalokasikan anggarannya untuk pendidikan, kesehatan, pemenuhan gizi, pemberdayaan desa, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat kecil, sesungguhnya negara sedang melakukan investasi terbesar yang dapat dilakukan sebuah bangsa, yaitu investasi pada manusia Indonesia. Investasi yang hasilnya mungkin tidak selalu terlihat hari ini, tetapi akan menentukan wajah Indonesia puluhan tahun ke depan.

 

Dari ruang-ruang kelas yang sederhana akan lahir para ilmuwan, guru, dokter, insinyur, pengusaha, pemimpin, dan inovator bangsa. Dari anak-anak yang hari ini memperoleh makanan bergizi akan tumbuh generasi yang lebih sehat dan lebih kuat. Dari desa-desa yang diberdayakan akan lahir pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. Dari pesisir yang diperkuat akan tumbuh masyarakat maritim yang lebih sejahtera dan berdaya saing.

 

Inilah esensi sesungguhnya dari politik anggaran yang berpihak pada pembangunan manusia. Bukan sekadar membangun apa yang tampak oleh mata, melainkan membangun apa yang akan menentukan masa depan bangsa. Sebab kemajuan Indonesia tidak akan ditentukan oleh seberapa banyak beton yang dicor atau seberapa tinggi bangunan yang didirikan, melainkan oleh seberapa berkualitas manusia Indonesia yang berhasil dibentuk. Ketika manusia Indonesia tumbuh cerdas, sehat, berkarakter, produktif, dan memiliki kesempatan yang adil untuk berkembang, maka di situlah fondasi paling kokoh bagi Indonesia yang maju, berdaulat, adil, dan bermartabat akan berdiri untuk generasi-generasi yang akan datang. ( Red )

Semoga manfaat.

 

(#isi tulisan/konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *