Wartajavaindo.com
JEPARA — Senin (6/4/2026), langkah Ketua DPRD Jepara *Dr. Agus Sutisna* tidak berhenti di ruang rapat. Ia memilih turun langsung, melakukan inspeksi mendadak ke *RSUD RA Kartini Jepara*. Sidak ini bukan sekadar mengecek fasilitas; ia menjadi ujian nyata: apakah rumah sakit andalan warga Jepara benar-benar hadir untuk semua, termasuk mereka yang datang dari kepulauan.
Di sela pemantauan standar layanan, perhatian Dr. Agus tertuju pada satu bangsal. Di sana terbaring *Muhammad Devan Alvaro*, bayi asal Desa Karimunjawa yang lahir dengan kelainan jantung. Anak nelayan tradisional ini butuh penanganan intensif, sementara orang tuanya berjuang dengan keterbatasan ekonomi dan jarak laut yang tidak pendek.
“RSUD Kartini adalah tumpuan. Tugas kami memastikan nelayan yang penghasilannya jauh di bawah cukup tetap terlayani dengan baik, tanpa terkendala apa pun,” tegas Dr. Agus.
Apresiasi untuk RSUD Kartini.
Di tengah keprihatinan, ada hal yang patut diapresiasi. Jajaran direksi dan tenaga medis RSUD Kartini dinilai terus menjaga mutu. Ruang perawatan bersih, alur pelayanan jelas, tenaga kesehatan sigap. Bagi warga Karimunjawa, kehadiran rumah sakit yang responsif adalah kepastian: geografis boleh jauh, tapi akses kesehatan tidak boleh putus.
Dr. Agus menyampaikan penghargaan atas komitmen itu. “Kami melihat ada ikhtiar sungguh-sungguh dari RSUD Kartini untuk naik kelas dalam layanan. Ini yang harus dijaga: profesional, manusiawi, dan tidak membedakan pasien.”
Keprihatinan dan Langkah Nyata untuk Devan
Kondisi Devan menyentuh nurani siapa pun. Bayi sekecil itu sudah harus bertarung dengan detak jantung yang tidak normal, sementara keluarganya berhitung setiap rupiah untuk bertahan di kota. Di titik inilah negara diuji: hadir atau absen.
Kabar baiknya, solusi dikebut. Pemkab Jepara mendorong percepatan aktivasi BPJS untuk Devan agar seluruh biaya pengobatan ter-cover. “Ini bukti pemerintah hadir. Warga kurang mampu tidak boleh kalah oleh prosedur,” kata Dr. Agus. Ia pun menyisipkan santunan pribadi untuk meringankan kebutuhan harian keluarga selama mendampingi Devan.
Kisah Devan adalah pengingat yang mendidik: sistem kesehatan yang kuat dinilai bukan dari gedungnya, melainkan dari keberpihakannya pada yang paling rentan. RSUD Kartini telah menunjukkan ikhtiar itu. DPRD memastikan keberpihakan itu dikawal kebijakan.
Sidak usai, tetapi pesannya tinggal. Tenaga medis kian terpacu memberi layanan prima. Warga Karimunjawa tahu mereka tidak sendiri. Dan Jepara sekali lagi menegaskan jati dirinya: daerah yang merawat warganya, dari kota hingga pulau, dari yang kuat hingga yang lemah, dengan kerja nyata dan hati yang peduli.
*Edi P.*






