Manasik Haji Jepara 2026: Jaga Sehat, Rawat Kekompakan

Wartajavaindo.com

JEPARA — Kamis (09/04/2026), Gedung Haji Kabupaten Jepara dipenuhi 1.547 calon jemaah. Manasik Haji Terintegrasi 2026 menjadi kelas terakhir di tanah air sebelum mereka bertolak ke Tanah Suci. Ketua DPRD Jepara *Agus Sutisna* hadir langsung, membawa pesan yang singkat namun mendasar: kesehatan dan kekompakan.

“Haji bukan hanya soal paspor dan koper. Ini ibadah fisik dan mental. Jaga tubuh, jaga kebersamaan, karena perjalanan ini panjang dan kita melakukannya bersama-sama,” tegas Agus di hadapan jemaah dari 16 kecamatan.

Manasik bukan formalitas. Ia membekali jemaah dengan pemahaman rukun, wajib, hingga mitigasi risiko di lapangan. Tahun ini Jepara memberangkatkan *1.433 jemaah reguler*, 6 pembimbing KBIHU, dan 8 petugas haji daerah. Perempuan mendominasi dengan 857 orang, laki-laki 690 orang. Pecangaan menjadi penyumbang terbanyak, disusul Tahunan dan Kalinyamatan. Dari sisi usia, rentangnya menantang: 296 jemaah berusia 65–79 tahun, 51 jemaah di atas 80 tahun. Yang tertua 85 tahun, termuda 16 tahun.

*Kepastian dari Pusat, Komitmen dari Daerah*

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI *Abdul Wachid* memastikan ibadah haji tetap berjalan normal. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah tidak berdampak pada penyelenggaraan. “Jemaah tidak perlu khawatir,” ujarnya. Ia juga menegaskan BPIH reguler tidak naik meski harga avtur bergejolak.

Di tingkat daerah, Bupati *Witiarso Utomo* menyiapkan pelayanan penuh: transportasi ke Asrama Haji Donohudan, konsumsi perjalanan, hingga pengelolaan koper. Ketua DPRD mengapresiasi langkah itu. “Sinergi pusat dan daerah adalah kunci. Negara hadir, DPRD mendukung agar layanan ke jemaah terus naik kelas,” kata Agus.

Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Jepara *Siti Zuliati* menambahkan, seluruh tahapan manasik dirancang agar jemaah berangkat dengan ilmu, bukan sekadar niat.

 

Himbauan kepada Para Pihak.

Menutup arahannya, Agus Sutisna menitipkan pesan yang mengikat semua pihak. Inilah pekerjaan bersama, bukan beban satu institusi.

*1. Kepada Calon Jemaah Haji*

Jagalah kesehatan sejak hari ini. Cukup istirahat, atur pola makan, minum obat rutin bagi yang memiliki penyakit penyerta. Di Tanah Suci, kekompakan adalah pelindung pertama. Saling tunggu, saling ingatkan, patuhi arahan ketua regu dan pembimbing. Disiplin waktu berarti menjaga hak jemaah lain.

*2. Kepada Petugas Haji Daerah, KBIHU, dan Ketua Regu/Rombongan*

Anda adalah mata, telinga, dan pegangan jemaah. Pastikan jemaah lansia dan risiko tinggi mendapat perhatian ekstra. Komunikasi harus jelas, pengambilan keputusan cepat, dan pendampingan 24 jam tanpa lelah. Catat kondisi kesehatan harian, jangan tunda penanganan.

*3. Kepada Pemerintah Kabupaten Jepara dan OPD Terkait*

Pastikan layanan dari rumah hingga embarkasi berjalan mulus: transportasi aman, konsumsi layak, koper tertib, data akurat. Posko kesehatan dan layanan informasi harus aktif, responsif, dan mudah dihubungi keluarga. Koordinasi dengan Kloter dan PPIH diperketat agar tidak ada jemaah tertinggal informasi.

*4. Kepada Keluarga Jemaah*

Dukung dengan doa dan ketenangan. Kurangi beban pikiran jemaah. Siapkan komunikasi darurat, namun beri ruang agar jemaah fokus beribadah. Ingatkan untuk patuh pada aturan, bukan pada keinginan pribadi.

*5. Kepada Tenaga Kesehatan Haji*

Lakukan skrining berkelanjutan. Edukasi jemaah tentang dehidrasi, kelelahan panas, dan kepadatan. Bawa data komorbid, siapkan obat cadangan. Pencegahan lebih utama daripada pengobatan di Tanah Suci.

*6. Kepada Masyarakat Jepara*

Mari ikut menjaga nama baik daerah. Doakan jemaah, bantu keluarga yang ditinggal, dan jadilah sumber informasi yang menenangkan, bukan menyebarkan kabar yang meresahkan.

“Kekompakan adalah kunci. Saling membantu, saling menjaga, disiplin dalam setiap tahapan. Semoga seluruh jemaah diberi kelancaran, kesehatan, dan pulang sebagai haji yang mabrur,” pungkas Agus Sutisna.

Haji adalah ibadah personal yang dikerjakan secara kolektif. Ketika semua pihak menjalankan perannya dengan tulus, maka _mabrur_ bukan hanya gelar untuk individu, melainkan cermin dari daerah yang berhasil memberangkatkan tamu-tamu Allah dengan aman, nyaman, dan bermartabat.

 

Edi P

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *