Wartajavaindo.com
Sragen, Selasa 16 Juni 2026.Bertahun-tahun tradisi larap slambu makam Pangeran Samodro di OW Gunung Kemukus berjalan, baru kali ini ada kejadian langka.
Tragedi meninggalnya seorang pemancing di aliran sungai WKO di wilayah Kedunguter, Pendem ,Sumberlawang, Sragen atau sungai Serang yang ada di dekat makam pangeran Samodro Gunung Kemukus masih ramai menjadi perbincangan hangat di masyarakat sekitar OW Gunung Kemukus.
Karena tenggelamnya korban bernama Satriyo Dwiki Rafi Nugroho (21) yang beralamat di Sambirejo, Girimargo, Miri, Sragen dialiran sungai Serang bertepatan dengan perayaan peringatan 1 muharram 1448 H atau 1 suro di OW Makam Pangeran Samodro.
Pada tahun-tahun yang lalu, sebelum kain slambu Pangeran Samodro dibilas di area pelataran makam Pangeran Samodro, kain slambu makam Pangeran Samodro selalu di bawa oleh juru kunci makam Pangeran Samodro serta juru kunci Sendang Ontrowulan ke sungai Serang untuk dijamas / dicuci dengan diiringi suara gamelan serta upacara adat dan pelarungan sesaji di tengah sungai Serang tersebut.
Tetapi di perayaan tahun ini ada yg berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, karena di tahun ini kain slambu penutup makam Pangeran Samodro tidak dicuci / di jamas di sungai Serang tersebut, melainkan cuma dicuci di pelataran makam Pangeran Samodro.
“Itu bukan mitos mas, tapi orang Jawa itu punya ilmu titen, dan terkait sesaji serta ubo rampe itu karena adat tradisi orang Jawa sebagai wujud syukur kepada Allah SWT agar di beri keselamatan, ketentraman serta kemakmuran”.Kata Aryo Seno praktisi kebudayaan.
“Baru tahun ini ada kejadian, disaat para pejabat daerah pulang, langsung ada korban tenggelam di sungai tersebut”. Kata Siswoko warga Gunung Kemukus.
Perbincangan dari warga sekitar OW Gunung Kemukus terkait meninggalnya pemancing tersebut karena dihubungkan dengan mitos terkait kain slambu Pangeran Samodro yang tidak di jamas di sungai Serang tersebut. Wawallahua’lam.
(Ddk)







