Hari Ini, 1 Syuro ke 1024 Hari Jadi Kerajaan Singopuro di Cirebon

Oleh : Ki Jagad Noto Cirebon 

 

Wartajavaindo.com

CIREBON – Untuk melestarikan warisan budaya leluhur, Penulis sampaikan ini untuk diketahui, dikenang, disayang dan dilestarikan.

Selasa Wage – Tanggal 1 Suro 1448 Hijriyah (16 Juni 2026 Masehi – Pukul 01:01 WIB.)

“Manunggal Winangun Sirnabaya”, peringatan tahun ini, Penulis mengajak seluruh elemen masyarakat Desa Sirnabaya untuk bersatu membangun Desa Sirnabaya dengan tetap menjaga Warisan Leluhur”.

Peringatan Hari Jadi ke- 1.024 Kerajaan Singopuro – yang jatuh pada Hari Selasa Wage Tanggal 16 Juni 2026 Masehi (1 Suro 1447 Hijriyah) menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali arah pembangunan Desa yang tidak hanya berorientasi pada kemajuan fisik, tetapi juga berakar kuat pada Sejarah, budaya, dan identitas peradaban Singopuro.

Sebagai salah satu Desa bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa, Desa Sirnabaya memiliki peran penting dalam perjalanan peradaban Nusantara. Dalam Babad Singopuro Nagari, Kerajaan Singopuro digambarkan sebagai pusat perkembangan agama, budaya, dan perdagangan yang lahir dari perjuangan Syekh Sayyid Maulana Djalaluloh serta para Pinisepuh Pedukuhan Depok.

Ditengah derasnya arus modernisasi, berbagai kalangan menilai Sirnabaya perlu kembali menata arah pembangunan yang berpijak pada nilai-nilai Sejarah dan Kebudayaan Lokal, upaya membangun desa tidak cukup hanya melalui pembangunan infrastruktur, tetapi juga harus mampu menjaga identitas dan karakter yang telah diwariskan selama sepuluh abad lebih.

Tulisan ini mengambil Tema : “Manunggal Winangun Sirnabaya” dinilai memiliki makna mendalam, yakni semangat persatuan dalam keberagaman untuk bersama-sama membangun Sirnabaya, Semangat tersebut sejalan dengan sejarah lahirnya Kerajaan Singopuro yang sejak awal merupakan ruang perjumpaan berbagai budaya, etnis, dan agama yang hidup berdampingan secara harmonis.

Penggiat Sejarah Singopuro, Kiyai Haji Zaenuddin selaku ketua DKM Masjid Rasa Sutji Baitul Khoir Sirnabaya, mengatakan bahwa Hari Jadi Kerajaan Singopuro ke-1024 ini dengan tema “Manunggal Winangun Sirnabaya” ini seharusnya menjadi titik balik untuk mengembalikan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya Sejarah sebagai landasan pembangunan desa.

Sirnabaya bukan sekadar wilayah administratif, tetapi sebuah pusat peradaban yang memiliki jejak sejarah panjang. “Kita tidak boleh hanya fokus membangun fisik desa, tetapi juga harus membangun kesadaran Sejarah Masyarakat. Identitas Sirnabaya ada pada warisan budaya, keraton, tradisi, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendiri Kerajaan Singopuro, ujarnya”

Menurut Sejarawan Drs, Ahmad Sena, MM, keberadaan kawasan-kawasan bersejarah seperti Situs-situs merupakan aset besar yang harus dijaga dan dikembangkan sebagai pusat pendidikan sejarah sekaligus destinasi (lokasi yang menjadi akhir dari sebuah perjalanan, atau tempat yang direncanakan untuk dikunjungi seseorang), wisata budaya.

“Banyak kota besar di dunia justru maju karena mampu merawat sejarahnya. Sirnabaya memiliki modal yang sama. Jika warisan budaya dikelola secara serius, maka bukan hanya identitas yang terjaga, tetapi juga dapat menjadi kekuatan ekonomi masyarakat”, tuturnya.

Senada dengan itu, Penulis (Imron Rosadi/ Ki Djagat Nata – Ketua PADEPOKAN SUNDA GALU PAKUWAN NUSANTARA – “PSGPN” Kabupaten Cirebon) , menilai tema “Manunggal Winangun Sirnabaya”, di Hari Jadi ke-1024 Kerajaan Singopuro sangat relevan dengan kebutuhan zaman saat ini, yakni memperkuat persatuan untuk membangun daerah tanpa meninggalkan akar budaya. – Makna “Manunggal Winangun Sirnabaya” adalah menyatukan seluruh unsur masyarakat untuk membangun Sirnabaya secara bersama-sama. Persatuan harus dibangun di atas kesadaran sejarah dan budaya yang sama. Jika masyarakat memahami jati dirinya, maka pembangunan akan memiliki arah dan karakter yang kuat.

Kejayaan Kerajaan Singopuro pada masa lalu tidak hanya ditandai oleh kemajuan ekonomi dan perdagangan, tetapi juga oleh kekuatan nilai budaya, spiritualitas, serta kearifan lokal yang mampu menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang.  Tuturnya.

Mamo Pangeran Pandji Prawirakusuma, – selaku Sejarawan/Budayawan, “Warisan para leluhur harus menjadi inspirasi dalam pembangunan saat ini. Kita tidak sedang bernostalgia terhadap masa lalu, tetapi mengambil nilai-nilai terbaik dari sejarah untuk membangun masa depan yang lebih baik. Berbagai kalangan juga mendorong adanya langkah konkret dalam menjaga dan menghidupkan kembali peradaban Desa Tertua di Kabupaten Cirebon”.

Beberapa upaya yang dinilai penting antara lain revitalisasi kawasan pusaka dan desa lama, penguatan pendidikan sejarah lokal di sekolah, pemberdayaan seni dan budaya tradisional, serta pengembangan wisata sejarah berbasis literasi (seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah) budaya.

“Kolaborasi antara pemerintah daerah, keraton, akademisi, komunitas budaya, dan masyarakat dinilai menjadi kunci keberhasilan dalam mewujudkan cita-cita tersebut”, kata Pangeran Panji kepada Penulis dirumahnya, Desa Mertasinga Kecamatan Gunung Jati Kabupaten Cirebon.

Ketua BPD Desa Sirnabaya Sukma Dilani, menyampaikan bahwa semangat kebersamaan yang terkandung dalam tema “Manunggal Winangun Sirnabaya” di Hari Jadi Kerajaan Singopuro ke-1024 menjadi fondasi penting untuk menyatukan berbagai elemen dalam menjaga sejarah sekaligus mendorong kemajuan daerah.

Memasuki usia ke-1024 tahun Hari Jadi Kerajaan Singopuro, Desa Sirnabaya dihadapkan pada tantangan sekaligus peluang besar untuk kembali meneguhkan dirinya sebagai desa budaya dan pusat peradaban yang berpengaruh. Menata Desa Sirnabaya bukan hanya soal mempercantik wilayahnya, melainkan juga menyulam kembali benang-benang sejarah yang pernah menjadikan Kerjaan Singopuro dikenal luas sebagai pusat kebudayaan, perdagangan, dan penyebaran nilai-nilai luhur dibelahan dunia. Ujarnya.

Tokoh Ulama Blok Depok Ustadz Askadi : “Hari Jadi Kerajaan Singopuro ke-1024 menjadi momentum untuk menegaskan bahwa kemajuan tidak harus menghilangkan identitas, sebaliknya, Sejarah dan Budaya dapat menjadi pondasi kuat dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan, berkarakter, dan membanggakan bagi generasi mendatang, dengan semangat “Manunggal Winangun Sirnabaya”, Desa Sirnabaya diharapkan mampu melangkah menuju masa depan yang lebih maju tanpa melupakan akar sejarah Kerajaan/Keratuwan Singopuro yang membentuk jati dirinya selama sepuluh abad lebih”.

(Red).

 

Artikel ini ditulis oleh Kliwon Komarudin selaku Juru Kunci Situs-situs Peninggalan Kerajaan Singopuro.

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *