wartajavaindo.com
BLORA – Ratusan bahkan ribuan warga Desa Wantilgung Kecamatan Ngawen Kabupaten Blora, tumpah ruah di sepanjang jalan Desa pada hari Jum’at Kliwon 08/05/2026. Untuk menyaksikan kemeriahan Kirab Budaya karnaval Sedekah Bumi. Tradisi turun temurun ini digelar sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang melimpah dan rezeki yang diberikan selama setahun terakir.
Sejak pagi, suasana meriah sudah terasa Warga dari berbagai RT/RW berkumpul dengan membawa berbagai kreativitas. Kirab dimulai pukul 01 WIB. Dengan arak- arakan gunungan hasil bumi, mulai dari sayur- mayur, buah- buahan, hingga hasil panen padi, yang di susun megah, Gunungan tersebut diarak dari titik start/rumah Bapak Bayan, mengelilingi Desa dan titik finis/dirumah Bapak Bayan juga.
Kepala Desa Wantilgung Sutrisno dalam sambutannya mengatakan bahwa acara ini bukan sekedar pesta rakyat, melainkan simbol pelestarian tradisi leluhur dan penguat tali silaturohmi antar Warga karena mengingat Desa Wantilgung adalah Desa aktif dalam mendorong pengembangan potensi lokal, khusunya industri rumahan Krupuk Sermiyer/krupuk singkong sebagai Ikon Desa.
Sedekah Bumi ini adalah bentuk nyata rasa syukur kita kepada Tuhan. Selain itu kegiatan ini mempererat kebersamaan Warga.
“Alhamdulillah, tahun ini kirab budaya terasa lebih semarak dengan banyaknya partisipasi dari ibu-ibu Bapak terutama dari kaum muda yang memakai pakaian adat,” ujar Sutrisno selaku Kepala Desa.

Selain Gunungan hasil bumi, karnaval juga dimeriahkan dengan pertunjukan kesenian lokal seperti tarian tradisional, Dancer warga fashion show pakaian adat.urut- urutan acara kemarin pada tgl 07/05/2026 pada hari Kamis udah di mulai dengan hiburan Kethoprak Gilar Budoyo Dari Tempuran Blora. Puncak acara ditandai dengan Do’a bersama dan Khotmil Qur’an yang dipimpin oleh tokoh agama setempat, dilanjutkan dengan perebutan gunungan hasil bumi oleh Warga.
Warga percaya bahwa mendapatkan bagian dari gunungan tersebut membawa berkah.
Rangkaian kegiatan Sedekah Bumi ini, menurut Warga, tidak hanya menjadi wujud syukur tetapi juga berhasil menggerakkan roda ekonomi Desa karena banyak pedagang kecil yang berjualan sepanjang jalur kirab.
Tradisi tahunan ini pun ditutup dengan pementasan Tarian dan Barongan pada malam harinya.

(Karyono)







