Sedekah Bumi: Tradisi Syukur Kepada Alam di Desa Bicak

Wartajavaindo.com.

Blora – Sedekah Bumi merupakan salah satu tradisi leluhur yang masih dilestarikan oleh masyarakat Dukuh karangmuso, Sadang, Mudal, dan Desa Bicak, Kecamatan Todanan Kabupaten Blora propinsi Jawa Tengah. Acara ini digelar setiap tahun pada bulan Apit (Dzulkaidah) sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki dan hasil bumi yang melimpah. Bukan hanya sekedar ritual, sedekah bumi juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi antar masyarakat dan untuk menjaga kelestarian adat budaya di Desa Bicak yang mana Desa Bicak tercatat sebagai salah satu Desa yang dikembangkan Menjadi Sentra Alpukat Dan Desa wisata.

Prosesi dimulai dari sambutan Oleh Winto, selaku kepala Desa Bicak dan di lanjutkan oleh sesepuh Desa yang memanjatkan doa- doa keselamatan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. Dalam sambutannya, Winto kepala Desa Bicak mengingatkan pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan alam. Warga percaya bahwa tanah yang mereka pijak dan air yang mereka gunakan sehari- hari adalah anugerah yang harus dijaga dan disyukuri. Doa bersama ini disertai dengan persembahan hasil bumi ada yang membawa tumpeng nasi uduk, pisang boges nasi ketan serondeng dan lain-lain sebagai simbol rasa syukur dan harapan atas kesuburan tanah.

Menurut Winto pada malam hari sebelum pelaksanaan, sedekah bumi para tokoh lintas agama, pemuda karang taruna dan tokoh masyarakat menggelar acara Khotmil Qur’an manakiban dan tahlil di punden Sentono. Baru esok harinya di lanjutkan dengan berbagai acara.

Setelah prosesi doa, dilanjutkan dengan bersama. Seluruh warga berkumpul dan menikmati berbagai hidangan yang telah disiapkan. Tidak hanya itu, acara Sedekah bumi di Desa Bicak juga dimeriahkan dengan kehadiran para masyarakat yang datang.Mereka datang menuju punden Sentono merupakan peninggalan leluhur dalang sopo Nyono, Yang di yakini sebagai Cikal bakal Desa Bicak. Mereka datang dengan berjalan kaki, membawa hasil bumi sebagai bentuk persembahan dan rasa syukur. Beberapa warga bahkan menempuh perjalanan jauh hingga beberapa kilometer, Kata salah satu warga yang ditanya awak media “,Warta Javaindo .com. demi mengikuti ritual adat ini. Perjalanan jauh berjalan kaki/ menaiki sepeda montor bukan hanya tradisi, tetapi juga simbol pengabdian dan penghormatan kepada leluhur. Yang di lakukan pada Hari Kamis Legi 14/05/2026. Puncak acara Sedekah bumi diisi dengan pagelaran Wayang kulit sehari semalam, yang mendatangkan Dalang Kiputut Wijanarko dari kota Sragen dan mengambil tema lakon “Pandawa Tani” yang di gelar di punden Sentono dan malam harinya pindah dilokasi RT empat Di depan KDMP Merah putih kata Winto kepala Desa Bicak.

Dengan Dalang Gading panjalu Wijanarko Putro dengan lakon “Banjaran Brotoseno atau Banjaran Bimo”. Wayang kulit ini tidak bisa dirubah atau diganti yang sudah menjadi tradisi turun menurun dari nenek moyang dahulu kata Winto. Pagelaran ini menjadi hiburan sekaligus sarana untuk menyampaikan pesan- pesan moral kepada masyarakat. Cerita- cerita wayang yang dibawakan sarat dengan nilai-nilai kehidupan yang mengajarkan kebijaksanaan, rasa syukur, dan pentingnya menjaga keharmonisan dalam hidup.

Mereka percaya bahwa dengan menjaga alam dan menghormatinya, hasil bumi akan menjadi tentram, aman dan damai.

Tradisi ini menjadi daya tarik bagi pendatang yang ingin menyaksikan langsung prosesi adat dan hiburan Wayang kulit, masyarakat Bicak, karangmuso, Sadang , dan mudal tersebut. Semangat gotong royong dan kebersamaan sangat terasa selama berlangsungnya acara Sedekah bumi.

Sedekah bumi di Desa Bicak bukan hanya sekedar perayaan tahunan, tetapi juga warisan budaya yang mengandung filosofi mendalam tentang rasa syukur, kebersamaan dan keharmonisan dengan alam.

Tradisi ini tetap bertahan dan menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai luhur masih relevan hingga kini. Semoga tradisi sedekah bumi di Desa Bicak terus lestari dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang sebagai Warisan budaya yang tak ternilai harganya.

Sedekah bumi menjadi bukti nyata betapa pentingnya menjaga tradisi, bersyukur atas anugerah Tuhan, dan hidup selaras dengan alam serta sesama Manusia.

(Alipkaryono)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar