Oleh : Ust Mustakim
Aceh Tamiang, (16 Mei 2026) —Pemandangan anak yang menatap layar berjam-jam kini menjadi hal biasa di banyak rumah. Sebagian larut dalam game, sebagian tenggelam dalam TikTok dan media sosial.
Banyak orang tua mulai panik. Gadget disalahkan. Teknologi dianggap penyebab utama rusaknya perhatian dan masa depan anak.
Namun menurut Ustadz,Mustakim, S. Ud M. H , persoalan sebenarnya tidak sesederhana itu.
Melalui kajian terbarunya berjudul “Anak Kita Tidak Kecanduan HP: Mereka Sedang Kehilangan Kehidupan Nyata”, Ketua Da’I Kecamatan Kab. Aceh Tamiang ini mengajak masyarakat melihat fenomena digital anak dari sudut pandang yang lebih dalam dan reflektif.
“Anak-anak hari ini tidak selalu lari menuju layar. Kadang mereka sedang lari dari kehidupan nyata yang terasa hambar, sepi, dan kurang bermakna,” ungkapnya.
Menurutnya, banyak keluarga modern tanpa sadar mulai kehilangan kedekatan emosional. Rumah masih berdiri, tetapi percakapan mulai menghilang. Kebersamaan ada secara fisik, namun perhatian masing-masing telah terpecah oleh layar.
Akibatnya, dunia digital perlahan menjadi tempat paling nyaman bagi anak-anak.
Di sana mereka menemukan hiburan, perhatian, tantangan, bahkan rasa “hidup” yang sering tidak mereka rasakan di dunia nyata.
“Banyak orang tua sibuk merebut HP anak, tetapi lupa membangun kehidupan yang membuat anak ingin melepaskannya,” tulisnya dalam buku tersebut.
Berbeda dengan pendekatan yang sekadar melarang gadget, buku ini justru menekankan pentingnya membangun kembali kehidupan nyata dalam keluarga.
Mulai dari menghadirkan percakapan yang hangat, aktivitas bersama, hingga membangun rumah yang hidup secara emosional.
Menurut Ustadz,Mustakim,anak-anak tidak cukup hanya diberi aturan. Mereka membutuhkan perhatian, keterhubungan, pengalaman nyata, dan kehadiran orang tua yang utuh.
Ia juga menyoroti bahwa ketergantungan layar bukan hanya terjadi pada anak-anak. Banyak orang tua, tanpa sadar, juga hidup terlalu dekat dengan dunia digital.
“Anak tidak belajar dari apa yang kita larang. Mereka belajar dari kehidupan yang mereka lihat setiap hari,” ujarnya.
Kajian ini hadir di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap dampak digital terhadap fokus, emosi, dan perkembangan anak.
Namun alih-alih memusuhi teknologi, buku tersebut mengajak orang tua memahami akar persoalan yang lebih mendasar: hilangnya kehidupan nyata yang hangat dan bermakna dalam keluarga modern.
Melalui gaya bahasa yang reflektif dan dekat dengan realita sehari-hari, buku ini mencoba membuka ruang renungan bagi orang tua bahwa solusi tidak cukup hanya dengan pembatasan layar.
“Anak tidak membutuhkan lebih banyak layar. Mereka membutuhkan lebih banyak kehadiran,” menjadi salah satu pesan utama dalam buku tersebut.
Sebagai Pembina Ummat Ustadz, Mustakim,S.Ud.M.H,selama ini dikenal aktif mengangkat tema pendidikan kehidupan, parenting, pembinaan karakter, dan refleksi sosial-keagamaan dalam berbagai kajian dan tulisan sebagai seorang Da’i tentunya beliau sangat berpengalaman dalam membina seluruh ummat muslim di Aceh Tamiang.
Melalui bimbingan Akhlak,ia berharap keluarga kembali menjadi tempat yang hidup, hangat, dan dirindukan anak-anak di tengah derasnya arus digitalisasi kehidupan.
Karena pada akhirnya, anak-anak tidak hanya tumbuh dari apa yang diajarkan kepada mereka, tetapi dari kehidupan yang mereka rasakan setiap hari.****







