Wartajavaindo.com
BEKASI – Senin malam 27 April 2026, Stasiun Bekasi Timur bergetar. KA 4 Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi menabrak bagian belakang KRL TM 5568A yang berhenti di peron 2. Dentuman keras, gerbong ringsek, kaca pecah, asap membubung. Jalur tersibuk Daop 1 Jakarta lumpuh total.
Tragedi itu berpangkal 35 menit sebelumnya di perlintasan JPL 85 Ampera. Sebuah taksi listrik mogok di tengah rel dan tertemper KRL CRRC Jakarta–Cikarang. Dalam waktu singkat, tiga rangkaian kereta terlibat insiden beruntun yang mengekspos kelemahan sistem persinyalan di leher botol double-double track ke double track.
Kronologi 35 Menit: Dari Mogok ke Tabrakan Beruntun
20.20 WIB.
Sebuah taksi listrik berhenti total di tengah perlintasan JPL 85 Ampera. Mobil listrik yang masuk mode proteksi baterai akan kehilangan daya secara tiba-tiba tanpa gejala “brebet” seperti mobil bensin. Palang pintu perlintasan sudah berdering ketika pengemudi mencoba mendorong kendaraan keluar rel. Upaya gagal.
20.30 WIB.
KRL CRRC relasi Jakarta–Cikarang tidak dapat berhenti sempurna dan menabrak taksi yang melintang. Rilis awal KAI Commuter 27 April 2026 pukul 22.15 WIB mengonfirmasi temperan. Dokumentasi foto menunjukkan bodi taksi ringsek terjepit di bagian depan kabin masinis. Penumpang KRL dievakuasi dengan berjalan di atas rel menuju Stasiun Bekasi. Sistem persinyalan otomatis mencatat petak jalur Bekasi–Bekasi Timur berstatus “terisi” mulai 20.31 WIB. Petak itu menggunakan konfigurasi double-double track 4 jalur.
20.40 WIB.
Karena temperan terjadi di jalur hilir 1-2 khusus KRL, jalur hulu 3-4 untuk KA jarak jauh dinilai dapat dilalui. Aspek sinyal hijau diberikan untuk petak hulu. Satu KA jarak jauh melintas tanpa hambatan. Beberapa menit kemudian, KA lain masuk ketika KRL terdampak temperan masih menjalani prosedur pengamanan di petak yang sama. Tabrakan kedua terjadi di dalam petak Bekasi–Bekasi Timur. Prosedur yang mengizinkan KA melintas di “jalur sebelah” saat satu jalur DDT terganggu kini menjadi sorotan utama investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi.
20.55 WIB.
KRL TM 5568A berhenti di Stasiun Bekasi Timur karena sinyal masuk masih merah. Data geometri jalur Ditjen Perkeretaapian 2024 mencatat jarak Stasiun Bekasi ke Bekasi Timur 2,1 kilometer. KA 4 Argo Bromo Anggrek dengan berat rangkaian ±400 ton masuk petak tersebut dengan kecepatan sekitar 100 km/jam.
Prinsip absolute block system pada perkeretaapian Indonesia mewajibkan sinyal masuk berwarna merah selama ada kereta di petak depan. Fakta bahwa KA Argo dapat masuk hingga menabrak KRL membuka empat kemungkinan yang didalami KNKT. Pertama, pelanggaran terhadap sinyal merah atau Signal Passed at Danger. Kedua, kegagalan sistem sinyal sehingga menampilkan aspek yang salah atau wrong side failure. Ketiga, miskomunikasi batas kecepatan dalam prosedur jalan hati-hati melewati sinyal merah. Keempat, jarak overlap yang tidak memadai untuk KA kecepatan 100–120 km/jam.
Overlap sinyal di jalur double track Bekasi Timur umumnya 250 meter. Standar UIC Leaflet 751-3 merekomendasikan overlap minimal 10 detik waktu tempuh. Untuk KA 120 km/jam, jarak itu setara 330 meter. KA dengan kecepatan 100 km/jam membutuhkan sekitar 800 meter untuk berhenti sempurna di rel basah. Jarak pandang pada malam hari di tikungan masuk Stasiun Bekasi Timur terbatas akibat hujan dan asap temperan sebelumnya.
Hingga Senin 28 April 2026 pukul 01.00 WIB, proses evakuasi penumpang di dua lokasi masih berlangsung. Data korban resmi belum diumumkan.
(Red)







