Wartajavaindo.com
KARIMUNJAWA – JATENG, Kabar baik datang dari ujung utara Jepara. Sebanyak 150 pelaku ekonomi kreatif (Ekraf) Karimunjawa berkumpul di Pantai Ceria, Senin (29/9/2026), dalam forum penting: Penyerapan Aspirasi Masyarakat oleh Badan Pengkajian MPR RI bersama Gekrafs Jepara.
Forum ini bukan sekadar diskusi. Ini adalah panggung bagi generasi muda kepulauan untuk bersuara, bahwa mereka tidak ingin hanya menjadi penonton pariwisata, tetapi menjadi pencipta inovasi yang berkelanjutan.
Hadir langsung dua tokoh nasional, Dr. Hj. Hindun Anisah, M.A. (Wakil Ketua Badan Pengkajian MPR RI) dan Dr. Hilmy Muhammad, M.A. (Anggota MPR RI dari DPD RI) untuk mendengar langsung denyut nadi pelaku ekraf Karimunjawa.
Dalam forum tersebut, satu pesan paling kencang disuarakan anak muda Karimunjawa: Kami butuh payung hukum yang adil untuk daerah kepulauan.
Ketua DPC Gekrafs Kabupaten Jepara, Muhammad Abdul Chaq, menegaskan bahwa Karimunjawa tidak bisa disamakan dengan daerah daratan.
“Apalagi mengingat status Karimunjawa yang notabene merupakan daerah kepulauan, maka treatment yang diberikan oleh negara harus berbeda dengan apa yang diterima oleh daerah-daerah non-kepulauan,” tegasnya.
Ia menyoroti masih adanya tumpang tindih regulasi dalam pengelolaan Karimunjawa yang menghambat inovasi. Namun ia juga optimis dengan terbitnya Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) 2026-2045 oleh pemerintah pusat sebagai peta jalan masa depan.
Inilah momentum bagi generasi muda untuk tidak hanya mengeluh, tetapi berinovasi dengan cara yang berkelanjutan: menjaga laut sambil mengolah produk, menjaga budaya sambil mendigitalisasi pemasaran.
Menanggapi aspirasi tersebut, Dr. Hj. Hindun Anisah, M.A. mendorong sinergi nyata.
Ia meminta Gekrafs Jepara untuk terus mendampingi anak muda Karimunjawa, bukan hanya soal modal dan pelatihan, tetapi juga mengawal regulasi yang melindungi hak-hak konstitusional mereka sebagai pelaku ekraf.
Sementara Dr. Hilmy Muhammad, M.A. memberikan dorongan yang lebih visioner untuk anak muda:
Ia mengajak pelaku ekraf Karimunjawa untuk aktif berjejaring dengan komunitas kepulauan lain di Indonesia. Belajar dari Bali, Lombok, hingga Wakatobi tentang bagaimana mengembangkan wisata dan produk unggulan tanpa merusak alam.
> Inovasi bukan berarti meninggalkan tradisi, tetapi mengemas tradisi dengan cara baru yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi tinggi. Contohnya: olahan hasil laut yang zero-waste, souvenir dari limbah laut yang di-upcycle, homestay dengan konsep eco-tourism, hingga konten digital yang mempromosikan konservasi terumbu karang.
Forum ini ditutup dengan penyerahan rangkuman aspirasi kepada MPR RI. Namun sesungguhnya, ini adalah awal.
Awal bagi anak muda Karimunjawa untuk sadar: masa depan Karimunjawa ada di tangan mereka. Negara sudah membuka telinga. Kini saatnya generasi muda membuka ide, berkolaborasi, dan berani menjadi inovator yang menjaga pulau, bukan mengeksploitasinya.
Karimunjawa tidak kekurangan potensi, yang dibutuhkan adalah generasi yang berani berinovasi secara berkelanjutan.
Edi P







