Oleh: Danil Akbar
Wartajavaindo.com.
Bima NTB – Disaat dunia mengalami krisis arah peradaban, krisis moral ekonomi, ketimpangan sosial, perang kepentingan, hingga dominasi korporasi global terhadap kehidupan manusia, justru nilai nilai yang terkandung dalam Pancasila mulai kembali dilirik sebagai jalan tengah bagi masa depan umat manusia. Dunia mulai menyadari bahwa liberalisme yang terlalu ekstrem melahirkan individualisme, kerakusan pasar, dan ketimpangan ekonomi yang brutal. Sementara komunisme dalam praktik sejarahnya banyak melahirkan penyeragaman, kontrol kekuasaan, dan matinya kebebasan manusia. Di tengah dua kutub itu, Indonesia sejak awal sebenarnya telah menawarkan konsepsi yang berbeda: keseimbangan antara Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial.
Inilah yang dahulu ditegaskan oleh Soekarno ketika berbicara tentang bangsa bangsa baru yang tidak ingin menjadi satelit kekuatan dunia. Bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar, buruh, atau objek eksploitasi global, tetapi harus menjadi bangsa yang berdiri di atas kepribadiannya sendiri. Karena itu pertarungan hari ini bukan sekadar soal politik elektoral, melainkan pertarungan arah peradaban. Pertarungan antara bangsa yang ingin berdiri di atas identitas dan kedaulatannya sendiri melawan kekuatan yang ingin menjadikan dunia hanya sebagai ruang transaksi ekonomi semata.
Dan anehnya, ketika banyak bangsa mulai berbicara tentang pentingnya keseimbangan sosial, ekonomi berkeadilan, kedaulatan pangan, gotong royong, dan pembangunan manusia yang utuh, justru sebagian anak bangsa sendiri sibuk mempertanyakan bahkan ingin menggeser fondasi kebangsaannya. Seolah olah bangsa ini malu menjadi dirinya sendiri. Padahal Pancasila bukan sekadar simbol negara yang ditempel di dinding kantor. Ia adalah hasil pergulatan sejarah, spiritualitas, budaya, dan pengalaman panjang bangsa Indonesia. Ia lahir bukan dari ruang akademik Barat, bukan pula hasil impor revolusi asing, tetapi lahir dari denyut kehidupan rakyat Nusantara sendiri.
Maka ketika ada upaya sistematis menggiring bangsa ini menjadi sekadar pasar bebas, memisahkan moral dari ekonomi, memisahkan spiritualitas dari pembangunan, serta menjadikan manusia hanya alat produksi dan konsumsi, di situlah sesungguhnya pertarungan ideologi sedang berlangsung. Sebab kolonialisme modern tidak selalu datang membawa senjata. Kadang ia datang melalui utang, ketergantungan ekonomi, manipulasi informasi, penetrasi budaya, hingga pembentukan pola pikir yang membuat suatu bangsa perlahan kehilangan kepercayaan terhadap identitasnya sendiri. Dan ketika bangsa kehilangan identitasnya, maka sangat mudah bagi kekuatan besar dunia untuk mengendalikan arah ekonomi, politik, bahkan kesadaran rakyatnya.
Karena itu menjaga Pancasila bukan berarti anti perubahan. Justru sebaliknya. Pancasila harus menjadi dasar untuk membangun kemajuan yang tetap berakar pada kemanusiaan dan keadilan sosial. Modern tetapi tidak kehilangan moral. Maju tetapi tidak tercerabut dari budaya. Kuat tetapi tetap beradab.
Pertanyaannya kemudian adalah: fondasi apa yang sebenarnya dimiliki Indonesia sehingga bangsa ini berpotensi tetap kokoh dalam persatuan nasional sekaligus dapat menjadi teladan bagi bangsa bangsa lain yang sedang mengalami krisis arah peradaban?
Jawabannya terletak pada perpaduan antara nilai, sejarah, geopolitik, dan kekayaan peradaban yang dimiliki bangsa ini sendiri. Indonesia memiliki Pancasila sebagai fondasi moral dan filosofis kebangsaan. Sebuah konsepsi yang tidak hanya berbicara tentang negara, tetapi juga tentang keseimbangan hidup manusia. Ketuhanan tanpa fanatisme sempit. Kemanusiaan tanpa penjajahan. Persatuan tanpa menghapus keberagaman. Demokrasi melalui musyawarah. Dan keadilan sosial sebagai tujuan akhir kehidupan berbangsa.
Bangsa ini juga memiliki pengalaman sejarah yang unik. Indonesia lahir bukan dari satu suku, satu agama, atau satu ras, melainkan dari kesadaran bersama untuk hidup sebagai bangsa besar di tengah keragaman. Dari Sabang sampai Merauke, dari ratusan bahasa dan kebudayaan, bangsa ini dipersatukan bukan oleh kesamaan, tetapi oleh cita cita bersama. Itulah kekuatan yang jarang dimiliki banyak negara lain. Karena itu Indonesia sesungguhnya memiliki syarat menjadi miniatur dunia. Hampir seluruh unsur peradaban manusia hidup di dalamnya: keragaman etnis, agama, budaya, sumber daya alam, jalur perdagangan, hingga posisi strategis geopolitik dunia. Jika bangsa sebesar dan seberagam Indonesia mampu hidup dalam persatuan, maka itu sendiri sudah menjadi pesan besar bagi dunia internasional.
Secara geopolitik Indonesia berada di persimpangan strategis jalur perdagangan dunia. Kawasan Nusantara sejak dahulu adalah titik temu peradaban besar dunia. Posisi ini membuat Indonesia memiliki bargaining power yang sangat besar apabila mampu berdiri tegak secara politik, ekonomi, dan ideologi. Persoalan terbesar bangsa ini sebenarnya bukan kekurangan potensi, melainkan sering kali kurangnya kepercayaan terhadap kekuatan dirinya sendiri. Padahal secara sumber daya, Indonesia memiliki kemampuan membangun kemandirian nasional yang kuat: energi, pangan, maritim, mineral, pertanian, hingga pasar domestik yang sangat besar.
Contoh tentang Iran sering dijadikan ilustrasi bagaimana sebuah bangsa tetap mampu bertahan menghadapi tekanan dan embargo global karena memiliki keberanian mempertahankan kedaulatan politiknya. Banyak orang kemudian membandingkannya dengan Indonesia yang secara sumber daya dan skala geopolitik sesungguhnya jauh lebih besar dan lebih strategis. Apalagi semangat berdikari yang dahulu digaungkan oleh Soekarno memang berbicara tentang keberanian bangsa untuk berdiri di atas kaki sendiri, tidak tunduk secara mental, ekonomi, maupun politik kepada kekuatan global mana pun. Bukan berarti menutup diri dari dunia, tetapi membangun hubungan internasional dengan martabat dan posisi tawar yang setara. Sebab bangsa yang besar bukanlah bangsa yang anti dunia internasional, melainkan bangsa yang mampu berinteraksi dengan dunia tanpa kehilangan identitas dan kedaulatannya sendiri.
Karena itulah banyak yang meyakini bahwa pertarungan ideologi sesungguhnya belum pernah selesai. Ia hanya berubah bentuk. Dari perang senjata menjadi perang ekonomi, perang informasi, perang budaya, perang regulasi, hingga perang memperebutkan kesadaran manusia. Tatkala dunia internasional mulai mencari formula baru untuk keluar dari krisis global, Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk tampil menawarkan jalan peradaban alternatif melalui Pancasila. Sebuah sistem nilai yang dianggap lahir dari keseimbangan antara spiritualitas, kemanusiaan, kebangsaan, dan keadilan sosial.
Dan di situlah muncul keyakinan bahwa Pancasila bukan hanya relevan bagi Indonesia, tetapi juga memiliki dimensi universal bagi masa depan dunia. Karena kolonialisme modern hari ini sering kali bekerja melalui dominasi ekonomi rente, penguasaan sumber daya, ketergantungan utang, serta sistem global yang menyebabkan ketimpangan terus melebar antara negara kaya dan negara berkembang. Maka lahirlah kesadaran di banyak bangsa untuk kembali memperjuangkan kedaulatan ekonomi, kemandirian nasional, dan keadilan global.
Semangat itu dahulu pernah menggema melalui gagasan tentang “The New Emerging Forces”, ketika bangsa bangsa yang baru merdeka ingin berdiri sejajar dan tidak tunduk pada dominasi blok kekuatan besar dunia.
“To Build The World Anew.”
Dan mungkin pertanyaan terbesar bagi Indonesia hari ini adalah: apakah bangsa ini masih percaya pada kekuatan jati dirinya sendiri, atau justru perlahan dijauhkan dari ruh yang dahulu melahirkannya sebagai bangsa besar?
Sebab bila Indonesia benar benar mampu menggabungkan persatuan nasional, kemandirian ekonomi, kekuatan budaya, kekayaan sumber daya alam, serta visi peradaban yang berakar pada kemanusiaan dan keadilan sosial, maka suara Indonesia bukan hanya akan didengar dunia, tetapi dapat menjadi salah satu penentu arah masa depan peradaban dunia itu sendiri. (BD/Red)







