Menjaga Kedaulatan Bangsa di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Oleh : Danil Akbar.

 

Wartajavaindo.com

BIMA – NTB, Setelah menyelami lebih dalam keadaan yang kita alami akhir-akhir ini sebagai bangsa, bahwa apa yang terjadi pada bangsa ini tidak selalu dapat diterjemahkan secara sederhana melalui teori dan pemahaman normatif berbagai pengetahuan yang kita pelajari. Nampak kenaikan nilai tukar dollar hingga mencapai angka 18 ribu rupiah dan mungkin akan terus mengalami kenaikan, karena imbas nyata dari tekanan ekonomi global yang sedang mengguncang banyak negara, termasuk Indonesia.

Situasi ini lahir dari pertarungan kepentingan ekonomi dunia, perang geopolitik, ketidakstabilan pasar energi, kenaikan suku bunga Amerika Serikat, serta dominasi sistem keuangan internasional yang masih bertumpu pada kekuatan dollar. Dalam kondisi seperti itu, negara negara berkembang akan menerima dampak paling besar karena ketergantungan terhadap arus perdagangan, investasi, dan sistem pembayaran global masih sangat kuat. Tekanan itu semakin terasa ketika sebuah negara mulai bergerak memperkuat kemandirian ekonomi, mempertegas kontrol terhadap sumber daya nasional, melakukan konsolidasi kekuasaan ekonomi domestik, atau mencoba mengurangi ketergantungan terhadap kepentingan eksternal tertentu. Pasar global biasanya merespons dengan gejolak nilai tukar, tekanan investasi, hingga terbentuknya opini ekonomi yang mempengaruhi psikologi pasar dan kepercayaan publik.

Sebagai bangsa, kita tidak mungkin menyerahkan masa depan negeri ini sepenuhnya pada pengaturan dan kepentingan eksternal. Sebab sebuah bangsa yang besar harus memiliki keberanian menentukan arah jalannya sendiri, menjaga kedaulatan ekonomi, melindungi sumber daya strategis, serta memastikan bahwa seluruh kebijakan negara tetap berpijak pada kepentingan rakyat dan masa depan nasional. Ketergantungan yang berlebihan terhadap kekuatan global hanya akan menjadikan sebuah negara mudah ditekan, digiring, bahkan kehilangan kemampuan menentukan nasibnya sendiri di tengah pertarungan kepentingan dunia yang semakin keras. Karena itulah tekanan ekonomi global yang hari ini dirasakan harus dipahami bukan sekadar sebagai ancaman, tetapi juga sebagai peringatan bahwa bangsa ini harus segera memperkuat fondasi ekonominya sendiri, membangun daya tahan nasional, dan memperbesar ruang kemandirian dalam menentukan arah pembangunan.

Kita juga harus belajar dari Iran. Di tengah embargo ekonomi, tekanan politik internasional, hingga sanksi yang berlangsung bertahun tahun, mereka tetap mampu bertahan sebagai negara yang berdiri tegak dengan kemampuan pertahanan yang kuat dan stabilitas dalam negeri yang tetap terjaga. Hal itu menunjukkan bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh derasnya investasi asing atau kuatnya mata uang, tetapi juga oleh ketahanan nasional, kemandirian produksi, disiplin negara, serta kemampuan membangun daya tahan rakyat menghadapi tekanan global. Iran membangun mental bertahan, memperkuat produksi dalam negeri, menjaga arah geopolitik nasional, dan tidak sepenuhnya menyerahkan masa depan bangsanya pada kendali eksternal.

Teori ekonomi semata tidak akan mampu menjawab seluruh persoalan yang sedang dihadapi dunia hari ini. Sebab yang sedang berlangsung bukan hanya persoalan angka, inflasi, kurs mata uang, atau mekanisme pasar, melainkan pertarungan besar antara kepentingan geopolitik, penguasaan sumber daya, dominasi kekuatan finansial global, serta perebutan arah peradaban dunia. Dalam situasi seperti ini, ekonomi tidak lagi berdiri sebagai ilmu yang netral, tetapi sering kali menjadi alat kepentingan dan instrumen kekuasaan global untuk mempengaruhi arah kebijakan sebuah negara. Karena itu, jika persoalan bangsa hanya dibaca dengan rumus rumus ekonomi konvensional, maka kita akan gagal memahami akar dari tekanan yang sesungguhnya sedang terjadi. Sebab di balik gejolak nilai tukar, krisis energi, hingga tekanan pasar internasional, terdapat pertarungan kepentingan yang jauh lebih besar dari sekadar teori permintaan dan penawaran. Ada kepentingan penguasaan sumber daya, pengaruh politik internasional, dominasi sistem keuangan global, hingga upaya mempertahankan hegemoni kekuatan dunia tertentu terhadap negara negara berkembang yang nota bene memiliki sumber daya yang besar termaksud Indonesia.

Dalam situasi inilah sebuah bangsa membutuhkan bukan hanya kecerdasan ekonomi, tetapi juga punya keyakinan yang kuat, keteguhan ideologi, kekuatan politik nasional, kemandirian pertahanan, ketahanan pangan dan energi, serta kesadaran kolektif rakyatnya. Sebagai bangsa tentu kita harus punya keyakinan diri bahwa bangsa yang mampu bertahan bukanlah bangsa yang semata mata kuat secara teori ekonomi, melainkan bangsa yang memiliki daya tahan nasional, keberanian mempertahankan kepentingannya sendiri, dan kemampuan menjaga persatuan di tengah tekanan global yang terus berubah.

Kegagalan kita membaca situasi ini akan berdampak pada lemahnya situasi dalam negeri. Menghadapi kondisi ini butuh ketahanan mental dan spiritual serta persatuan nasional yang bulat kuat, karena akan berdampak langsung pada kehidupan ekonomi dan politik dalam negeri, namun di sinilah tantangan yang harus kita jawab secara bersama-sama, kalau benar ini adalah pilihan terbaik bangsa ini untuk menentukan nasib sendiri (self determination). Kita punya gotong royong, tolong menolong, kita punya berat sama dipikul ringan sama dijinjing, kita punya semboyan bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, ini cara kita menjaga kekompakan dalam merawat integrasi dalam berbangsa dan bernegara.

Republik kini tengah berada di persimpangan jalan untuk menentukan arah perjalanan peradabannya sendiri, kita harus menentukan nasib kita sendiri. Dan melawan situasi ini, tentu kita butuh kesadaran kolektif dan bersatu padu, bahu membahu menghadapinya, Pendiri bangsa ini pernah berpesan bahwa imperlialisme itu tidak mati, dia hanya pingsan dan akan bangkit kembali dalam bentuk yang baru. Berdikarilah…!! Karena berdikari itu adalah lonceng kematian bagi Neo kolonialisme dan Neo imperialisme.

Terakhir saya ingin menyampaikan bahwa tulisan ini bukanlah sama sekali bertujuan untuk mendukung atau menolak pemerintah secara membabi buta, melainkan lahir dari kegelisahan dan kecintaan terhadap bangsa ini agar tetap berdiri utuh di tengah gelombang tekanan global yang semakin besar. Sebab di atas segala perbedaan pandangan politik, kepentingan bangsa dan keselamatan negara harus tetap menjadi tujuan yang lebih utama. Menjaga keutuhan nasional, mempertahankan kedaulatan, serta memastikan masa depan Indonesia tidak mudah ditentukan oleh kepentingan eksternal, itulah yang menjadi motivasi utama dalam tulisan ini.

 

(Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *