SEMARANG — wartajavaindo.com, Cuaca dalam Kurun sebulan terakhir sangat ekstrim, hujan disertai angin yang mengakibatkan terjadinya bencana banjir, longsor dan pohon tumbang dibeberapa wilayah daerah Jawa Tengah, tetapi musim Penghujan yang begitu ekstrim ini justru akan menimbulkan Perkiraan musim kemarau yang datangnya lebih awal.
Kepala Perakitan dan Pengujian Agroklimat Jawa Tengah, Dr. Rima Purnamayani, S.P., Beliau memimpin Balai Perakitan dan Pengujian Agroklimat dan Hidrologi Pertanian, yang berfokus pada modernisasi pertanian berkelanjutan dengan inovasi teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Menegaskan pentingnya kesiapsiagaan Petani sejak dini.
Musim kemarau 2026 datang lebih cepat dan kering dari biasanya, tapi petani tak tinggal diam. Dengan teknologi cerdas, dari prediksi tanam hingga irigasi hemat air, panen tetap bisa diselamatkan.
Rima menambahkan, Petani harus memahami bahwa perubahan pola musim bukan hal yang bisa diabaikan. Adaptasi berbasis agroklimat dan hidrologi adalah kunci agar produksi pangan tetap terjaga, sekaligus mengurangi kerugian akibat kekeringan.
Musim kemarau 2026 diprediksi datang lebih cepat dari rata-rata historis. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau sejak April, dengan puncak diperkirakan terjadi pada Agustus.
Lebih dari 46 persen zona musim diproyeksikan mengalami awal kemarau lebih cepat, sementara 60 persen wilayah berpotensi menghadapi kondisi lebih kering dari normal.
Fenomena ini muncul seiring berakhirnya El Niño lemah pada Februari 2026 dan pergeseran kondisi iklim global menuju fase netral, dengan peluang berkembang menjadi El Niño lemah–moderat pada pertengahan tahun. Pergeseran iklim ini bukan sekadar angka di laporan BMKG.
BMKG memaparkan beberapa potensi risiko kekeringan bagi pertanian. Pertama, ketersediaan air irigasi bisa menurun, terutama untuk lahan tadah hujan dan wilayah dengan sumber air terbatas. Konsultasi Pertanian,
Kedua, produktivitas tanaman dapat menurun, khususnya pada komoditas yang membutuhkan banyak air seperti padi dan jagung. Ketiga, serangan hama dan penyakit meningkat karena kondisi kering mempermudah organisme pengganggu berkembang. Keempat, risiko gagal panen membayangi jika kekeringan berlangsung lebih lama dari normal.
Musim kemarau yang datang lebih awal tentu memberi tantangan tersendiri bagi sektor pertanian. Kami mendorong para petani memanfaatkan teknologi dan informasi yang tersedia agar produksi pangan tetap optimal,” ujarnya saat ditemui di kantornya, pekan lalu.
Data BRMP menunjukkan sekitar 30–40 persen lahan pertanian di Jawa dan Bali yang bergantung pada irigasi tadah hujan sangat rentan terhadap kekeringan.
Sumatera dan Nusa Tenggara juga diprediksi mengalami penurunan curah hujan signifikan, sehingga potensi defisit air semakin terasa pada pertengahan tahun.
Jadwal Tanam
Menanggapi prediksi musim kemarau lebih awal, BRMP merekomendasikan langkah strategis yang bisa diambil para petani. Salah satunya adalah penyesuaian jadwal tanam.
Dengan mengubah waktu tanam, fase pertumbuhan tanaman yang membutuhkan banyak air bisa dijadwalkan sebelum puncak kemarau. Strategi ini efektif mengurangi tekanan pada ketersediaan air dan menekan risiko gagal panen
.“Menanam padi atau jagung tepat waktu bisa membuat tanaman lebih tahan terhadap kekeringan. Tidak perlu menunggu musim normal, karena pola musim kini lebih dinamis,” ujar Rima.
Selain penyesuaian jadwal, praktik budidaya adaptif menjadi penting. Penggunaan varietas tahan kekeringan atau tanaman berumur genjah membantu pertumbuhan tetap optimal meski air terbatas.
Pemasangan mulsa di permukaan tanah juga mengurangi penguapan dan menjaga kelembaban lebih lama. Teknik pengolahan tanah yang menahan air, seperti terasering atau penumpukan tanah di sekitar perakaran, juga terbukti efektif meningkatkan ketahanan tanaman.
Rima menekankan, keberhasilan adaptasi bukan hanya pada teknologi, tapi juga sinergi antara informasi iklim dan pengelolaan air. BMKG menyediakan peringatan dini, sementara BRMP menawarkan rekomendasi berbasis sains.
“Kolaborasi ini memungkinkan langkah antisipatif dilakukan sebelum kondisi ekstrem terjadi. Misalnya, prediksi kekeringan tinggi pada Juli bisa menjadi sinyal bagi petani untuk menyesuaikan jadwal tanam dan menyiapkan IPAP lebih awal,” jelas Rima.
Pendekatan berbasis data ini juga membantu pemerintah daerah merencanakan alokasi air, prioritas lahan irigasi, dan distribusi bantuan. Risiko gagal panen pun bisa ditekan seminimal mungkin.
Menurutnya, pengelolaan air yang baik tidak hanya membantu menghadapi kekeringan, tetapi juga meningkatkan ketahanan tanaman terhadap stres kekeringan di fase kritis seperti pemupukan dan pembungaan.
Selain itu, pemerintah telah menyiapkan paket antisipatif lain termasuk penguatan jaringan irigasi skala nasional, optimalisasi sistem irigasi perpompaan di area non-rawa, sistribusi bantuan pompa air ke daerah pertanian yang rawan kekeringan hingga penyediaan benih unggul tahan kekeringan untuk menjaga produktivitas.
Ns. ST/Juharmanik)








