Ditangan Anak SMP Negeri 6, Ukiran Jepara Bikin Duta Besar Dunia Terpesona

Wartajavaindo.com

*JEPARA –* Jateng

Jika biasanya ukiran Jepara dipamerkan di galeri mewah dan pameran internasional, Rabu (4/11/2026) kemarin, panggungnya justru berpindah ke sebuah sekolah: SMP Negeri 6 Jepara.

Di sinilah para diplomat dari berbagai negara dibuat terpukau. Bukan oleh pejabat, bukan oleh pengusaha besar, tetapi oleh tangan-tangan mungil siswa SMP yang sedang mengukir dan membatik.

Kunjungan ini menjadi bagian paling berkesan dari rangkaian The Diplomatic Forum Jepara 2026.

Kepala SMPN 6 Jepara, Siti Rosiyanah, membuka cerita dengan satu fakta yang membuat semua terdiam kagum. Dirinya mengatakan, sekolah ini lahir pada 1956 sebagai Sekolah Teknik Ukir. Tempat di mana perkayuan dan seni ukir tradisional diajarkan secara serius, jauh sebelum Jepara dikenal dunia. Kini, 70 tahun berlalu, sekolah itu telah berubah menjadi SMP. Tapi jiwanya tidak pernah berubah.

“Teach, practice, and pass them on,” tegas Siti Rosiyanah.

(Ajarkan, praktikkan, dan wariskan).

Tiga kata itu yang membuat SMPN 6 Jepara berbeda dari sekolah lain di Indonesia.

Di ruang praktik, para diplomat menyaksikan langsung bagaimana kepiawaian anak anak membuat ukiran dan membatik.

Fadil, siswa kelas 9E, sudah mengukir sejak kelas 8. Ia jujur mengaku, bagian ulir masih menjadi tantangan tersulit. Tapi matanya berbinar saat berbicara soal ukiran. Ia tidak menyerah, ia justru semakin tertarik.

Sementara Lala, siswa kelas 8A, sudah membatik sejak kelas 7. Dengan tenang ia berkata, membatik tidak sulit baginya, dan ia ingin terus menekuni hingga dewasa nanti.

Dua anak ini adalah jawaban atas pertanyaan besar: Siapa yang akan meneruskan ukiran Jepara jika para maestro sudah menua? Jawabannya ada di SMPN 6 Jepara.

Puncaknya terjadi saat Duta Besar Kerajaan Denmark untuk Indonesia, H.E. Sten Frimodt Nielsen, tidak hanya menonton, tapi ikut mencoba mengukir bersama siswa.

Ia tersenyum, mengangguk, dan menyampaikan pesan yang langsung menyentuh hati semua siswa:

“You are the future of Indonesia.” (Kalian adalah masa depan Indonesia.).

Menurutnya, pendidikan harus berjalan beriringan dengan penjagaan warisan budaya. Kemajuan teknologi boleh dikejar, tapi akar budaya jangan sampai dicabut.

Pesan itu senada dengan pesan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Jepara, Ratib Zaini:

“Jangan melupakan sejarah, budaya, dan jati diri bangsa kita.”

Ratib berharap kunjungan ini bukan sekadar kunjungan, tapi membuka pintu nyata: pertukaran siswa dan guru, kerja sama pendidikan dan kebudayaan, hingga peningkatan kemampuan bahasa asing.

Usai dari SMPN 6, para diplomat diajak melihat Museum Ukir di lingkungan sekolah, menyimpan memori 70 tahun perjalanan ukiran Jepara.

Perjalanan berlanjut ke Pantai Bandengan, menyusuri pesisir sambil menikmati musik tradisional. Lalu ke Octofest 2026, panggung utama industri mebel, seni ukir, dan kerajinan Jepara.

Di sana, Wakil Bupati Jepara, Muhammad Ibnu Hajar, menegaskan harapan besar Jepara:

“Kami berharap kunjungan ini tidak berhenti pada pengenalan produk, tetapi berkembang menjadi hubungan bisnis dan kerja sama yang konkret serta berkelanjutan.” Ujar Wabub Hajar

Para diplomat pun diajak berinteraksi langsung dengan pelaku usaha, menjajaki pasar, investasi, dan transfer pengetahuan. Rangkaian ditutup dengan kunjungan ke *Dekranasda Jepara*, melihat produk unggulan IKM Jepara.

Kini Jepara membuktikan satu hal kepada dunia: Ukiran Jepara tidak hanya hidup di tangan para maestro, tetapi juga hidup di tangan anak-anak SMP. Dan selama anak-anak itu masih mau mengukir, Jepara tidak akan pernah kehilangan jati dirinya.

 

Edi P/John

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar