Oleh : Kliwon Komarudin
Wartajavaindo.com
Cirebon – “AWAL BERDIRINYA KERADJAAN SINGOPURO – YANG SEKARANG MENJADI DESA SIRNABAYA KECAMATAN GUNUNG JATI KABUPATEN CIREBON JAWA BARAT”
“Bismilahirohmanirohiim”
Nama Singopuro, berawal dari sebuah wilayah Pedukuhan Depok yang “Gemah Ripah Loh Djinawi – Subur Kang Sarwa Tinandur – Murah Sarwa Tinuku – Kaloka Murah Sandang Pangan lan Tentrem Kawontenanipun”, yang dipimpin oleh Ki Ageng Sendang dan istrinya Nyai Saketi, adanya Pedukuhan Depok sejak tahun 780 Saka atau tahun 268 Hijriyah – kalau Di Masehikan Tahun 847 Masehi, Ki Ageng Sendang dan istrinya Nyai Ageng Saketi, serta anaknya yang bernama Endang Sakheti, lahir tahun 873 Saka atau tahun 361 Hijriyah – kalau di Masehikan tahun 940 Masehi, dan rakyatnya yang berjumlah 23 kepala keluarga, semuanya beragama “Kapitayan”, dan ditahun 898 Saka atau tahun 386 Hijriyah – kalau Di Masehikan tahun 965 Masehi, kedatangan tamu dari Nagari Bagdad, yang mengaku bernama Syekh Sayyid Maulana Iskhak, dan Ditahun 900 Saka atau 388 Hijriyah – kalau di Masehikan tahun 967 Masehi.”
“Ki Ageng Sendang Sekeluarga serta rakyatnya yang berjumlah 23 kepala keluarga masuk Agama Islam, sekaligus Putrinya yang bernama Endang Sakheti dikawinkan dengan Syekh Sayyid Maulana Iskhak, dan disaat selesai Ijab Kobul, Ki Ageng Sendang meninggal Dunia, juga setelah sembilan harinya meninggal nya Ki Ageng Sendang, istrinya menyusul, meninggal dunia, Ditahun 902 Saka atau tahun 390 Hijriyah – kalau di Masehikan tahun 969 mempunyai anak yang bernama “Pangeran Abimayu”, dan di tahun 905 Saka atau tahun 393 Hijriyah – kalau di Masehikan tahun 972 Masehi, peputra lagi, bernama “Pangeran Djaka Lodra” Lanjut, Ditahun 930 Saka atau tahun 418 Hijriyah – kalau di Masehikan tahun 997 pergi ke Mekah, menunaikan rukun Islam yang ke lima, dan pulang dapat oleh-oleh jenengan, bernama Syekh Sayyid Muntholib dan Siti Mutma’inah, sepulang dari Tanah Suci dirinya selalu bertafakur setiap malam, dengan tujuan bagaimana agar Agama Islam cepat berkembang di Bumi Jawa ini, dan di tahun 933 Saka atau tahun 421 Hijriyah – kalau di Masehikan tahun 1000 Masehi, mendapat Wejangan dari Suaranya saja, disuruh mendirikan Keradjaan kalau ingin membesarkan Agama Islam ditanah Jawa Dwipa”
Lanjut, di Pedukuhan Depok pada tahun 933 Saka (tahun 421 Hijriyah – kalau di Masehikan tahun 1000 Masehi), Syekh Sayyid Maulana Ishak, mengundang Para Pinisepuh Pedukuhan Depok, diantaranya Pangeran Pangga – Pangeran Surya Dilaga – Ki Ageng Selo Pandan – Ki Ageng Kerta Djati – Ki Ageng Sapto dan Ki Ageng Djoyo Sampurno, Syekh Sayyid Maulana Ishak Pitutur, Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh, terus dijawab oleh keenam orang tadi, Waalaikumsalam Warohmatullohi Wabarokatuh”
“Poro Pinisepuh, Sebetulnya Saya ingin Cepat berkembang tentang Agama Islam di Bumi Pulau Jawa ini, dan Sesuai Hasil Tafakur Saya sejak memimpin Pedukuhan Depok, dan tadi malam dapat wejangan yang ke-tujuhnya selama saya bertafakur dalam tiga tahun, begini Wejangan nya, kalau sariramu ingin Agama Islam cepat berkembang di Bumi Jawa Dwipa, Sariramu harus Mendirikan Kerajaan Islam, karena yang namanya Kerajaan itu punya Prajurit, hingga Kuat nantinya, kalau ada yang tidak senang, dan tentang Lokasi yang cocok mendirikan Kerajaan adalah di sebelah utaranya Pedukuhan Depok ini, yaitu di Wana Puro, karena diujung Utara Wana Puro ada Sungai Namanya “Sungai Djaladri” itu berguna sekali nantinya, karena untuk Tamu yang datang dari jalur laut Jawa, juga Keratonnya disuruh menghadap ke Utara menghadapi Sungai Djaladri, sekarang Saya mohon Bantuan serta dukungan Panjenengan semua, untuk mendirikan Kerajaan Islam yang pertama di bumi Pulau Jawa ini.”
Ke-enam pinisepuh tadi menjawab, Bismillahirrohmanirrohim In Syaa Alloh Syekh Saya ber-enam siap membantu dan mendukung Keinginan Syekh, apalagi itu Tujuan yang sangat Mulia., Singkat Cinarita, Syekh Sayyid Maulana Ishak dan Ke-enam Pinisepuh setelah Bertafakhur selama 41 hari lamanya. dan di malam Jum’at, Ketujuh Orang tadi membabad Hutan Wana Puro, tetapi tidak dibabad pepohonan di hutan Wana Puro itu, dengan cara dicabuti semua, dalam satu malam hutan Wana Puro Pepohonan baik yang kecil maupun yang besar sudah roboh semua.
Hanya menyisakan Pohon jati 12 pohon yang besar sekali berjumlah Empat Pohon, setelah menunaikan Sholat Jumatan, Syekh Sayyid Maulana Ishak pergi ke lokasi Wana Puro yang sudah seperti lapang, ditemani oleh Pangeran Pangga – Pangeran Surya Dilaga – Ki Ageng Selo Pandan – Ki Ageng Kerta Djati – Ki Ageng Sapto dan Ki Ageng Djoyo Sampurno, dan Masyarakat Pedukuhan Depok.”
“Syekh Sayyid Maulana Ishak setelah duduk bersilah, Bertafakhur memohon kepada Gusti Alloh, agar dimudahkan tentang menyelesaikan mencabuti pohon djati yang dangat besar sekali, sebanyak 12 pohon, dengan tujuan untuk bahan membuat Keraton dan lainnya, begitu Syekh Sayyid Maulana Ishak mau Mencabuti pohon djati, dari pohon yang jumlahnya lima jenis pohon menjadi satu, makhluk Ghaib berupa Singa Putih dan Buaya Putih keluar, dan menyerangnya, karena Syekh Sayyid Maulana Ishak sudah siap dengan Adjian Syahadat Djin Bagdhad. Kedua nya langsung Lumpuh, tidak bisa apa-apa, tetapi tidak mohon ampun, karena belum pimpinannya belum turun, begitu Buaya Putih dan Singo Putih tidak bisa bergerak, lanjutnya, Makhluk Ghoib dari Pohon Panggang yang besarnya tak terkira kan, keluar akan membawah Kedua Prajuritnya, tetapi Syekh Sayyid Maulana Ishak, mengetahui secara Mata Bathin nya, Makhluk Ghoib yang besar sekali dari pohon Panggang langsung minta ampun, dan takluk kepada Syekh Sayyid Maulana Ishak, dan dirinya mengaku bernama Ki Wulu Ireng, selaku Raja Jin dipulau Jawa.”
” Singkat Cinarita, Makhluk Ghoib yang tiga tadi masuk Agama Islam, dan diberi nama oleh Syekh Sayyid Maulana Ishak, Buaya putih diberi nama “Ki Ageng Kendit” – dan Singa Putih diberinana “Ki Ageng Singo Merta” kalau Ki Wulu Ireng tetap tidak berganti nama, karena Dia selaku Raja Djin di Pulau Jawa, setelah itu Syekh Sayyid Maulana Ishak langsung mencabuti pohon jati yang sebanyak 12 pohon, dalam sekejap saja sudah roboh semua, Poro Pinisepuh yang menyaksikan dibawah pohon Tenggulun terheran-heran, dan poro Pinisepuh berunding, untuk memberi Jenengan kepada Syekh Sayyid Maulana Ishak.”
“Syekh Sayyid Maulana Ishak mendekati poro Pinisepuh, Ki Ageng Selo Pandan mewakili Pinisepuh lainnya, Pitutur, Syekh mohon maaf, Saya dan semua Pinisepuh sudah berunding untuk memberi Jenengan kepada Syekh, karena dalam sekejap saja pohon jati sebanyak 12 pohon yang besarnya tak terkirakab sudah kecabut semua, sekarang Syekh Maulana Iskhak Diberi Jenengan yaitu “Pangeran Sura Widjaya Sakti”, Syekh Sayyid Maulana Ishak alias Pangeran Sura Widjaya Sakti Pitutur, kepada semua Pinisepuh Saya mengucapkan terima kasih atas diberi nama, yaitu Pangeran Sura Widjaya Sakti.”
Sekarang Saya timbal balik untuk panjenengan yang tadi malam membantu Saya mencabuti pohon di hutan Wana Puro, akan memberi Jenengan kepada ke-enam pinisepuh.
Yaitu. Ki Ageng Selo Pandan – Saya Jenengi “Ki Ageng Pandu”. karena Ki Ageng Selo Pandan diwaktu mencabuti pepohonan selalu mengarahkan kepada temannya (memandu) – Ki Ageng Kerto Djati, saya Jenengi “Ki Ageng Kerti” karena waktu mencabuti pepohonan sangat hati-hati. – Ki Ageng Sapto Widjoyo, Saya Jenengi “Ki Ageng Djrogdjog” karena diwaktu mencabuti pepohonan tidak menengok kanan kiri (bahasa jawanya Nyrogdjog) – Ki Ageng Sapto, Saya Jenengi “Ki Ageng Sapto Widjoyo” karena waktu mencabuti pepohonan memakai ilmu Pamungkasnya, – Pangeran Pangga, Saya Jenengi “Pangeran Duwi Pangga” karena waktu mencabuti pepohonan memakai ilmu kembar dua. – dan Pangeran Surya Dilaga, Saya Jenengi “Pangeran Banas Patih” karena waktu di Wana Puro semua pohon dibakar memakai ilmu Banas Patih.”
“Dan Syekh Sayyid Maulana Iskhak alias Pangeran Sura Widjaya Sakti, memberi nama yang Bekas Cabutan Pohon jati, namanya “Balong Tirta Kahuripan” – “Balong Kamulyaan” – “Balong Sutji Raga” – “Lebak Pantjer Djati” – “Lebak Badjang” – “Lebak Kedung” – “Lebak Si Daon” – Lebak Tirta Djati” – Lebak Bledug” – “Lebak Djati” dan “Lebak Dwi Djati” (karena pohonnya berdampingan).dan Situs tersebut yang 10 situs sudah Puna semua, tinggal “Balong Tirta Kahuripan dan Lebak Pantjer Djati” yang masih ada sampai di zaman sekarang.”
“Ditahun 935 Saka (Tahun 423 Hijriyah – kalau di Masehikan, Tahun 1002 Masehi), semua apa yang diperlukan untuk mendirikan sebuah Keradjaan sudah memadai semua, seperti alat persenjataan dan lainnya juga Keraton – Abdi Dalem – Prajurit dan Rakyat, Syekh Sayyid Maulana Iskhak dihari Jum’at Kliwon Tanggal 1 Suro 423 Hijriyah (Tahun 935 Jawa – atau Tahun 1002 Masehi) dihadapan para Pinisepuh dan Rakyat mengikrarkan Kerajaan Islam yang pertama di Bumi Pulau Jawa ini, dengan mengucap “Bismillahirrohmanirrohim Namanya Kerajaan Singopuro”. Serentak semuanya Sujud Syukur dan mengucap Allohu Akbar, Singkat Cinarita, di Hari Jum’at Kliwon Tanggal 1 Muharam 423 Hijriyah (Hari Jum’at Kliwon Tanggal 1 Suro 935 Jawa atau tahun 1002 Masehi). Syekh Sayyid Maulana iskhak Mengikrarkan Ngadegnya Kerajaan Islam, yang bernama “Keradjaan Singopuro”
Filosofi Nama *” SINGOPURO “* (Sing Inget Maring Gusti Alloh lan Pituture Rosullulloh — Yang ingkat Kepada Gusti Alloh dan Sabdanya Rosullulloh).”
“Setelah Nama Kerajaan Sudah di ikrarkan, poro pinisepuh dan rakyat Pedukuhan Depok bermusyawarah, dengan membahas siapa yang pantas menjadi Raja di Kerajaan Singopuro.
Poro Pinisepuh Pedukuhan Depok selama 41 malam Bertafakhur, mohon petunjuk kepada Gusti Alloh Subhannahu Wa ‘Atala, tentang siapa yang Layak menjadi Raja Di Kerajaan Singopuro yang baru berdiri, Singkat Cinarita, Poro Pinisepuh Pedukuhan Depok berkumpul lagi bermusyawarah, hasil kesepakatan yang menjadi Rajanya. Yaitu Syekh Sayyid Maulana iskhak, dan dampingi oleh Istrinya, Nyai Endang Sakheti, akhirnya Poro Pinisepuh diwakili Pangeran Duwi Pangga, Pitutur kepada Syekh Sayyid Maulana Iskhak alias Pangeran Sura Widjaya Sakti, dan Istrinya, Syekh dan Nyai, Saya mewakili Rakyat Pedukuhan Depok, sudah bermusyawarah tentang siapa yang layak menduduki Kursi Kencono Agung di Keraton Kerajaan Singopuro, yaitu Syekh Sayyid Maulana Iskhak dan dan dampingi oleh istrinya, juga Nama Gelarnya, “Paduka Prabu Widjaya Kusuma” serta Gelar Istrinya “Permaisuri Dewi Ayu Ningrum”.
” Ditahun 937 Saka (Tahun 425 Hijriyah – kalau di Masehikan Tahun 1004 Masehi), Paduka Prabu Widjaya Kusuma ingin membuat tempat berteduhnya Ki Ageng Pandu alias Ki Ageng Selo Pandan dan Istrinya yang bernama Nyai Dewi Rindjani alias Nyai Ageng Pandu, yang bertugas menjaga Muara Sungai Djaladri, untuk mengawasi kalau ada tamu lewat jalur laut Jawa, kemudian Paduka Prabu Widjaya Kusuma alias Syekh Sayyid Maulana Iskhak alias Pangeran Sura Widjaya Sakti mengajak Ki Ageng Pandu – Ki Ageng Kerti – Ki Ageng Kendal Rekso dan Ki Ageng Sapto Widjoyo menuju Hutan Wana Merta dipinggir pantai laut Jawa, dengan tujuan akan mencabut Pohon jati yang agak lumayan besarnya, ke empat orang tadi duduk bersila, Paduka Prabu duduk di Tanah yang agak tinggi, dan ketiganya duduk dibelakang tanah yang renda.”
“Paduka Prabu sedang khusyu-khusyunya bertafakur kemudian Dua Makhluk Ghoib jin menyerangnya, tetapi kedua jin tersebut belum menyentuh tubuhnya sudah lumpuh, sedangkan ketiga orang tersebut tidak mengetahui saking Khusyunya, dan ditanya oleh Gusti Prabu, namanya Ki Ageng Djena Delap dan Ki Ageng Nawi Silir, kedua mohon ampun dan mau masuk Agama Islam, terus Gusti Prabu, mencabut Pohon jati sendirian, lansung rubuh, kemudian akan dibawah kepinggir Sungai Djaladri ditanah yang mencorok kelaut, kemudian kedua Jin tersebut membantu memanggul pohon jati, setelah ditaroh kemudian Gusti Prabu dan kedua jin tersebut kembali ketempat semula.”
“Lanjutnya, Gusti Prabu membangunkan ketiga Abdi Dalem tersebut, ketiga Abdi Dalem semuanya tercengang karena pohon jati sudah tidak ada, kemudian Gusti Prabu Pitutur, para Abdi Dalem, Puji Syukur Alhamdulillah pohon jati sudah saya cabut dan sudah saya taroh di pinggir Sungai Djaladri, dan kalian bertiga silahkan nanti dibuat Bale dan lainnya, gunanya untuk tempat istirahat Ki Ageng Pandu dalam menjalankan tugas menjaga Pantai, dan saya perkenalkan dulu kedu makhluk jin yang menunggu pohon jati tersebut, Alhamdulillah kedua jin ini sudah saya Islamkan dengan membaca Syahadat, yang ini namanya Ki Ageng Djena Delap dan yang itu Ki Ageng Nawi Silir, sekarang saya akan memberi nama kepada kedua jin, Ki Ageng Djena Delap, Saya ganti namanya “Ki Ageng Alap-alap, dan Ki Ageng Nawi Silir namanya”Ki Buyut Ilir”, dan Cabutan bekas pohon jati saya berinama “Balong Paseban”, juga daerah ini saya namai “Djagat Djenawi”, dan kalau nanti Bale sudah jadi dibuat oleh kalian, saya namai “Bale Paseban”.
“Singkat Cinarita, Kerajaan Singopuro Ditahun 937 Saka (diakhir Tahun 425 Hijriyah – kalau di Masehikan Tahun 1004 Masehi), setelah Bale Paseban sudah jadi dan Ki Ageng Pandu sedang duduk di Bale Paseban, melihat seseorang menaiki sebuah Papan lebar dilaut Jawa, dan menuju ke dirinya, lanjutnya, setelah saling memperkenalkan diri dan menjelaskan yang menjadi tujuan, Dia bernama “Syekh Bayanilah” dari Nagari Bagdad, ingin mencari temannya yang bernama “Syekh Sayyid Maulana Djalalulloh”, lanjutnya, Ki Ageng Pandu dan Istrinya Nyai Pandu dengan Syekh Bayanilah berangkat menuju ke Keraton Kerajaan Singopuro, Sedangkan, muara Sungai Djaladri dititipkan kepada Ki Ageng Alap-alap dan Ki Buyut ilir, karena dia juga menjaga pantai, tetapi disebelah penanggul utara Sungai Djaladri, Singkat Cerita, setelah Syekh Bayanilah dan Gusti Prabu (yang nama aslinya Syekh Sayyid Maulana Djalalulloh) saling merangkul, dan bahagia sekali, lanjut, Syekh Bayanilah membantu menyebarkan Agama Islam di wilayah Keradjaan Singopuro, baru satu tahun diberinama nama oleh Gusti Prabu, namanya “Syekh Madjagung”
“Ditahun 939 Saka (Tahun 427 Hijriyah – kalau di Masehikan Tahun 1006 Masehi), Gusti Permaisuri Dewi Ayu Ningrum alias Gusti Ratu Endang Sakheti, menjalankan Titah yang berupa Suaranya saja, yaitu dari Ayahandanya, almarhum Ki Ageng Sendang, disuruh mencabut Pohon Padan yang ada disebelah barat Oemo Romo, dipindahkan kedepan Keraton, Gusti Prabu – Syekh Madjagung dan Maha Pati Pangeran Duwi Pangga ikut menemani Gusti Ratu, kemudian dengan mengucap “Bismilahirohmanirohiim dengan Ridhonya Gusti Alloh Subhanahu Wa Ta’ala saya akan mencabut Pohon Padan ini”, terus begitu sudah dicabut, dengan kebesaran Gusti Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, Tanah yang bekas cabutan Pohon Pandan tadi langsung menjadi “Sumur” yang sudah rapih ada bata merah nya, kemudian Gusti Ratu memberi nama sumur tadi, namanya “Sumur Pandan”, tetapi setelah mau pergi dari Sumur, dari dalam Sumur mengeluarkan Aroma yang sangat wangi, akhirnya nama Sumur tadi ditambahi namanya oleh Gusti Prabu, namanya “Sumur Pandan Wangi”.
“Ditahun 948 Saka (diawal Tahun 436 Hijriyah – kalau di Masehikan Tahun 1015 Masehi), Kerajaan Singopuro kedatangan tamu dari Nagari Arab sebanyak Tujuh Orang Syekh, yang bernama “Syekh Djalaini Munthoha – Syekh Djamaluddin Nursyi – Syekh Djamalulai Al-Asy – Syekh Djafar Nur Rosyid – Syekh Syafari – Syekh Abdurrahman dan Syekh Djafar Mosythofa, lanjutnya, ketujuh para Syekh tadi berdiam di Kerajaan Singopuro baru tiga bulan, kemudian punya pemikiran ingin membangun Masjid, kemudian usul kepada Gusti Prabu Widjaya Kusuma, dan langsung disetujui, kemudian Gusti Prabu memberi Titah kepada para Abdi Dalem, untuk mencabut Pohon jati yang ada disebelah selatan timur Keraton Keradjaan Singopuro, karena dihutan itu banyak sekali Pohon Djati, setelah Pohon jati di ambil, kemudian Gusti Prabu memberi nama hutan tersebut, dengan nama “Karang Djati” (sampai sekarang ada nama blok tersebut, masuk wilayah Desa Grogol kecamatan Gunung Jati).”
Ditahun 948 Saka (diakhir Tahun 436 Hijriyah – kalau di Masehikan Tahun 1015 Masehi), pembangunan masjid sudah jadi, yang letaknya disebelah timur Keraton Kerajaan Singopuro, (sekarang namanya Blok Pekauman Desa Sirnabaya), kemudian Gusti Prabu Widjaya Kusuma memberi nama masjid tersebut, sekaligus meresmikan nya, dengan nama “Mesigit Sutji Rasa” (sekarang bernama Masjid Baitul Khoir), Singkat Cinarita, setelah selesai menunaikan Sholat Idul Adha, para Syekh tersebut berpamitan kepada Gusti Prabu dan semua Rakyat Kerajaan Singopuro, dan yang tidak ikut pulang ke Nagari Arab, yaitu Syekh Dja’far Mosythofa – Syekh Syafari dan Syekh Abdurrahman, karena ingin menetap di wilayah Kerajaan Singopuro sampai akhir hayatnya.”
“Singkat Cerita, Kerajaan Singopuro di tahun 923 Saka (tahun 511 Hijriyah – kalau di Masehikan tahun 1090 Masehi), kedatangan tamu dari Nagari Bagdad, dia bernama “Syekh Sayyid Abdul Qodir Al-Djaelani”, yang ingin bertemu dengan Kakak tertua nya yang bernama Syekh Sayyid Maulana Djalalulloh alias Syekh Sayyid Maulana Iskhak alias alias Syekh Muntholib alias Pangeran Sura Widjaya Sakti alias Gusti Prabu Widjaya Kusuma, Singkat Cinarita, Syekh Sayyid Abdul Qodir Al-Djaelani menimbah ilmu Jawa kepada kakaknya, selama tiga tahun, terus di tahun 926 Saka (tahun 514 Hijriyah – kalau di Masehikan tahun 1093 Masehi), disuruh pergi kedaerah pegunungan, dengan tujuan disuruh membuat “Masjid” didalam Gua, dan meninggalkan “Ajian Syahadat Djin Bagdad” guna agar diwariskan kepada anak cucu, kelak kalau menemukan Lokasih tersebut, nanti kalau sudah jadi berinama daerah terbuat, namanya “Djagat Pamidjahan” dan Syekh harus langsung pulang ke Bagdad, karena Sariramu sangat diperlukan sekali di seluruh Djagat didunia ini, Lanjut, Syekh Sayyid Abdul Qodir Al-Djaelanisebelum berangkat memberi Pusaka kepada Kakaknya, yaitu sebuah “Tombak” yang bernama “Tombak Panurat Djagat”, kemudian setelah selesai apa yang ditugaskan oleh kakak nya langsung pulang ke Nagari Bagdad.”
Singkat Cinarita, Ditahun 1139 Saka (tahun 627 Hijriyah – kalau di Masehikan tahun 1106 Masehi), Gusti Prabu dengan Syekh Bayanilah dan Ki Ageng Suro Djolo Dikpuro melalang buana, menuju laut arahpura, dengan membawa “Bale Tjandra Agung”, dengan tujuan, Bale tersebut akan ditaroh dilaut arahpura, setelah menaroh Bale Tjandra Agung diujung timur, dan yang ditugaskan menunggu Bale Tjandra Agung, yaitu Ki Ageng Suro Djolo Dikpuro, kemudian keduanya langsung menuju kedaerah paling barat, disana membuat Tajug ditengah hutan belantara yang dipenuhi mahluk jin kafir, tetapi sebelum membuat Tajug, Gusti Prabu menancapkan tombak Panurat Djagat (tajugnya waktu kena tsunami sama sekali tidak terendam air laut), disaat membuat Tajug Gusti Prabu dan Syeh Bayanilah dinina oleh bangsa Jin yang tidak takluk dan tidak masuk Agama Islam, setelah Tajug jadi terus diberi nama “Tajug Ikhlas”. Kemudian Gusti Prabu mencabut tombak Panurat Djaga, dengan kebesaran Gusti Allah bekas cabutan tombak mengeluarkan air yang sangat tawar walau dipinggir laut, kemuadian memberi nama yang bekas cabutan tombak Panurat Djaga namanya Sumur Adem sekaligus memberi nama daerah tersebut, karena para Jin Kafir tidak mau masuk Islam dan mengece dirinya dengan disaksikan oleh Raja Jin yang masuk ke agama Islam, daerah tersebut diberi nama Djagat Aceh.
“Gusti Prabu Widjaja Kusuma ditahun 1215 Saka (tahun 703 Hijriyah / 1282 Masehi), mengabulkan permintaan Santri Yaang mondok di pesantren Singopuro sebanyak 3 santri yaitu nama Ki Ageng Karta, Ki Ageng Danu Tinggal dan Ki Ageng Sawidja, ketiganya ingin membuat Tajug untuk sholat berjamaah dan mengajar mengaji buat rakyat di daerahnya, Gusti Prabu Widjaja Kusuma memberi titah kepada Syeh Bayanilah – Syeh Alimmudin dan Syeh Djafar. Musthofa disuruh membangun Tajug di daerah ketiga santri. Singkat cerita setelah Tajug jadi diawal tahun 1216 Saka (tahun 704 Hijriyah/1283 M). Kemudian Syeh Bayanilah pitutur kepada semua rakyat daerah itu dan sesuai amanat dari Gusti Prabu Widjaja Kusuma, Tajug ini diberi nama Tajug Gede, sesuai dengan keniaatan ketiga santri yang sangat menggebu-gebu ingin membuat Tajug dan Kentong Tajug, diberi nama Kentong DjatiAgung. Sumurnya diberi nama Sumur Padusan DjatiAgung Suro.Padasan yang untuk tempat wudhu diberi nama Padasan Suci Agung serta daerah nya diberi nama Djagat Guwa karena sesuai dengan daerah sini yang dipenuhi oleh pohon Bambu Ampel,, sehingga seperti masuk Goa jalanan nya. Sekarang daerah tersebut masuk ke Desa Surakarta Kecamatan Suronenggala Kabupaten Cirebon (Alhamdulillah Tajug masih ada dan sudah direnovasi).
“Singkat cerita,Kerajaan Singopuro semakin lama semakin terkenal di seluruh belahan dunia, karena subur makmur, rakyat nya juga tenteram wilayahnya juga kearifan sang Raja yang adil dan bijaksana tidak memandang siapapun, baik miskin atau kaya, baik yang mempunyai jabatan maupun petani sehingga terdengar di Nagari belahan dunia dan di tahun 1270 Saja (758 H/1337 M) Kerajaan Singopuro kedatangan tamu dari negeri Tiongkok sebanyak 3 perahu terdiri dari 99 Prajurit dan Maha Pati serta ketuanya berlabuh di muara sungai Djaladri, kunjungan yang pertama kalinya dan diterima oleh Ki Ageng Pandu yang saling memperkenalkan diri, tamu tersebut bernama Laksamana Tjeng Hp dan Maha Pati bernama Pengeran Sarmapo, kemudian oleh Ki Ageng Pandu dibawa menuju Keraton Karadaan Singopuro, ditemani oleh istrinya Nyai Ageng Pandu. Singkat cerita setelah diterima oleh Gusti Prabu Widjaja Kusuma yang selaku Raja Pertama di Kerajaan Singopuro, Laksmana Tjeng Ho ingin berbagi niaga di wilayah kerajaan Singopuro lamanya 3 tahun, terus kata Gusti Prabu, kalau Laksamana Tjeng Ho ingin menetap di Kerajaan Singopuro lamanya sampai 3 tahun nanti saya musyawarah dukudengaan semua pada Abdi Dalem untuk mohon pendapat nya.
Singkat cerita, Laksana Tjeng Ho hidup di wilayah kerajaan Singopuro sambil memberi ilmu kepada rakyat Kerajaan Singopuro, tentang membuat perahu jaring – mencari ikan di laut – memelihara ikan di kolam dan membuat jamu dari dedaunan, kemuadian Gusti Prabu Widjaja Kusuma sangat berterimakasih atas ilmu yang diajarkan kepada rakyat Kerajaan Singopuro, terus Gusti Prabu Widjaja Kusuma memberi nama Jawa kepada Laksamana Tjeng Ho yaitu Pangeran Kidam Puawang, juga permaisuri memberi nama Syah Abdul Qidam.
(Red)







