Oleh : Danil Akbar
BIMA, (9 Juni 2026.) – Tulisan ini ditujukan kepada kalian, kaum muda revolusioner dan Pancasilais sejati yang masih konsisten memperjuangkan nasib dan masa depan negeri ini, yang punya mimpi besar tentang Indonesia, kalian yang masih percaya bahwa Indonesia bukan sekadar nama sebuah bangsa dan negara, melainkan cita-cita besar yang diwariskan oleh para pendiri bangsa untuk diwujudkan dari generasi ke generasi. Kalian yang meyakini bahwa Pancasila bukan hanya rangkaian kata yang dihafal, melainkan pedoman perjuangan dalam menjaga kedaulatan, persatuan, keadilan sosial, dan martabat bangsa.
Menjadi revolusioner bukan berarti menolak perubahan, melainkan menjadi pelopor perubahan yang tetap berakar pada kepentingan nasional. Menjadi Pancasilais sejati bukan berarti sekadar mengucapkan Pancasila dalam pidato, melainkan menghayati, memahami dan mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di tengah derasnya arus globalisasi, penetrasi kepentingan asing, dan berbagai upaya yang dapat melemahkan karakter bangsa, kalianlah yang diharapkan menjadi penjaga arah perjalanan Indonesia.
Bila kelak kalian menjadi pemimpin, janganlah memandang perjalanan bangsa ini hanya dari apa yang tampak di permukaan. Sejarah mengajarkan bahwa setiap bangsa yang berusaha berdiri tegak di atas kaki sendiri akan selalu berhadapan dengan berbagai tekanan. Tidak ada kemerdekaan yang benar-benar diberikan secara cuma-cuma, dan tidak ada kemandirian yang lahir tanpa pengorbanan.
Ingatlah bahwa Dunia adalah tempat bertarungnya banyak kepentingan, tempat perebutan sumber daya, pengaruh, dan dominasi.
Sejak dahulu hingga sekarang, hubungan antar bangsa tidak pernah sepenuhnya terlepas dari kepentingan. Negara-negara besar maupun kecil sama-sama berusaha mengamankan kebutuhan ekonomi, energi, pangan, teknologi, pasar, dan keamanan nasional mereka. Karena itulah, dinamika dunia sering kali diwarnai oleh persaingan untuk memperoleh akses terhadap sumber daya strategis dan memperluas pengaruh politik maupun ekonomi.
Di era modern, persaingan tersebut tidak selalu diwujudkan melalui perang terbuka, sangat berbeda keadaannya dengan beberapa abad silam. Persaingan dapat muncul dalam bentuk kompetisi perdagangan, penguasaan teknologi, pengendalian jalur logistik, investasi strategis, pengaruh keuangan global, hingga pertarungan narasi di ruang informasi dan media. Negara yang memiliki sumber daya alam melimpah, posisi geografis strategis, atau pasar yang besar sering kali menjadi pusat perhatian berbagai kepentingan internasional.
Dalam konteks ini, setiap bangsa dituntut memiliki kemampuan membaca perubahan geopolitik dan geoekonomi dunia secara cermat. Bangsa yang tidak memahami peta kepentingan global berisiko menjadi objek perebutan pengaruh, sementara bangsa yang mampu menjaga persatuan, kemandirian, dan daya saingnya akan memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai tekanan dan peluang yang muncul.
Karena itu, kedaulatan bukan hanya soal mempertahankan wilayah negara, tetapi juga kemampuan menjaga kepentingan nasional di tengah persaingan dunia yang terus berubah. Suatu bangsa tentu tidak bisa berdiri sendiri tanpa menjalin hubungan baik dengan bangsa-bangsa lain, disinilah yang perlu kita tegaskan bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu menanamkan pengaruh dan dapat bekerja sama dengan bangsa manapun, tanpa kehilangan kebebasan untuk menentukan arah dan masa depannya sendiri.
Hari ini Indonesia berada dalam pusaran perubahan dunia yang besar. Persaingan kekuatan global semakin tajam, perebutan sumber daya semakin terbuka, dan berbagai instrumen ekonomi, keuangan, teknologi, informasi, bahkan budaya digunakan sebagai alat untuk mempertahankan pengaruh terhadap bangsa-bangsa yang sedang berkembang. Dalam situasi seperti ini, berbagai persoalan yang muncul di dalam negeri tidak dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan teknis atau administratif. Sebagian di antaranya merupakan konsekuensi dari pertarungan kepentingan yang jauh lebih besar dari apa yang tampak di permukaan.
Ketika sebuah bangsa memiliki tekad untuk membangun kemandirian ekonomi, memperkuat industri nasional, menguasai sumber daya strategis, dan mengurangi ketergantungan terhadap kekuatan eksternal, maka bangsa tersebut harus siap menghadapi berbagai tekanan. Tekanan itu dapat muncul dalam bentuk gejolak pasar, tekanan investasi, fluktuasi nilai tukar, perang informasi, hingga berbagai upaya yang dapat memperlambat proses pembangunan nasional.
Dalam pandangan kaum nasionalis, dunia modern tidak lagi didominasi oleh imperialisme dalam bentuk kolonialisme klasik sebagaimana yang terjadi pada masa lalu. Imperialisme hari ini hadir dalam bentuk yang lebih halus, lebih canggih, dan lebih sulit dikenali. Ia bekerja melalui ketergantungan ekonomi, dominasi teknologi, penguasaan pasar, pengaruh lembaga-lembaga keuangan internasional, serta kemampuan membentuk opini publik melalui arus informasi global. Inilah yang sering disebut sebagai neo-kolonialisme dan imperialisme gaya baru.
Karena itu, ketika Indonesia berusaha memperkuat posisi tawarnya di hadapan dunia, memperbesar kendali atas kekayaan nasional, serta memperjuangkan agenda-agenda yang dianggap lebih berpihak kepada kepentingan bangsa sendiri, maka berbagai gesekan menjadi sesuatu yang sulit dihindari. Sejarah menunjukkan bahwa setiap bangsa yang ingin mandiri selalu harus melewati masa-masa yang berat sebelum mencapai kestabilan dan kemajuan yang sesungguhnya.
Namun di tengah tantangan itu, kaum muda harus memahami satu hal penting bahwa perjuangan bangsa tidak selalu berlangsung di medan perang. Hari ini medan perjuangan itu berada di sektor ekonomi, pendidikan, teknologi, pangan, energi, lingkungan, budaya, dan penguasaan sumber daya alam. Bangsa yang gagal menguasai sektor-sektor tersebut akan tetap bergantung kepada pihak lain meskipun secara politik telah merdeka puluhan tahun.
Oleh sebab itu, jadilah pewaris para pejuang pembela bangsa, bukan pewaris imperialisme baru yang terus merusak ekosistem kehidupan berbangsa dan bernegara. Kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah dan pengorbanan tidak boleh diwariskan kepada generasi yang kehilangan arah sejarahnya sendiri.
Bangsa ini didirikan bukan untuk menjadi pengikut peradaban lain, bukan pula untuk menjadi pelengkap kepentingan kekuatan-kekuatan global yang datang silih berganti dengan berbagai wajah dan kepentingannya. Indonesia lahir dari semangat pembebasan, dari perlawanan terhadap kolonialisme, penindasan, dan segala bentuk penguasaan bangsa atas bangsa.
Karena itu, jadilah pemuda yang independen dalam berpikir. Jangan mudah digiring oleh propaganda. Jangan mudah larut dalam arus informasi yang sengaja dibentuk untuk menciptakan kebingungan. Jangan mudah kehilangan pijakan ideologis hanya karena derasnya opini yang datang dari berbagai arah. Bangun kemampuan berpikir yang jernih, rasional, dan berakar pada cita-cita besar Proklamasi Bangsa Indonesia 17 Agustus 1945, Pancasila, dan Undang-Undang Dasar 1945.
Pahami bahwa para pendiri bangsa tidak mewariskan negara ini tanpa arah. Mereka telah meletakkan fondasi yang jelas untuk mewujudkan negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Mereka menolak kolonialisme dalam segala bentuknya. Mereka menolak eksploitasi yang merugikan rakyat. Mereka menolak dominasi asing yang menghilangkan kedaulatan bangsa. Semangat itulah yang harus terus hidup dalam setiap generasi.
Tanpa kemampuan memahami dan membaca pikiran besar para pendiri bangsa, tanpa kemampuan menangkap cita-cita luhur yang terkandung dalam Proklamasi, Pancasila, dan UUD 1945, selama itu pula generasi akan mudah terjebak dalam berbagai bentuk polarisasi yang diciptakan untuk memecah energi nasional. Mereka akan sibuk bertengkar dalam sekat-sekat identitas, saling mencurigai, saling menjatuhkan, sementara agenda-agenda besar kebangsaan perlahan ditinggalkan.
Polarisasi yang terus dipelihara pada akhirnya hanya akan melemahkan daya juang bangsa. Ketika rakyat terpecah, ketika generasi muda kehilangan orientasi perjuangan, maka ruang bagi berbagai bentuk dominasi baru akan semakin terbuka. Bangsa yang tercerai-berai akan lebih mudah dipengaruhi dari pada bangsa yang memiliki kesadaran kolektif terhadap tujuan nasionalnya.
Berjalanlah setengah langkah di depan sejarah perjalanan bangsa, tetapi jangan pernah meninggalkan akar perjuangannya. Pelajari masa lalu untuk memahami masa kini, dan pahami masa kini untuk menyiapkan masa depan. Jangan menjadi generasi yang hanya menjadi konsumen dari peradaban orang lain. Jadilah generasi yang menciptakan peradabannya sendiri.
Jadikan Indonesia sebagai laboratorium peradaban dunia. Tempat lahirnya gagasan-gagasan besar, teknologi yang berpihak kepada rakyat, sistem ekonomi yang berkeadilan, serta model pembangunan yang berakar pada karakter bangsa sendiri. Bangsa ini terlalu besar untuk sekadar menjadi pasar, terlalu kaya untuk sekadar menjadi pemasok bahan mentah, dan terlalu berharga untuk terus bergantung pada kehendak kekuatan luar.
Usirlah mental komprador dari negeri ini. Bukan sekadar individu tertentu, melainkan cara berpikir yang selalu menganggap bangsa sendiri lemah, tidak mampu berdiri sendiri, dan harus selalu bergantung pada pihak lain. Sebab selama mental ketergantungan masih hidup, selama itu pula kemerdekaan ekonomi dan politik hanya akan menjadi cita-cita yang belum selesai.
Ingatlah bahwa setiap langkah menuju kemandirian selalu mengandung konsekuensi. Akan ada tekanan, akan ada tantangan, akan ada masa-masa sulit yang harus dihadapi. Namun sejarah juga mengajarkan bahwa tidak ada bangsa besar yang lahir dari kenyamanan. Bangsa besar lahir dari keberanian menghadapi tekanan dan keyakinan untuk menentukan nasibnya sendiri.
Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa besar tekanan yang datang dari luar, melainkan oleh seberapa kuat tekad rakyatnya untuk mempertahankan kedaulatan bangsa. Dan di pundak kaum mudalah amanat sejarah itu akan diteruskan.
Jadilah penjaga arah perjalanan bangsa. Jadilah generasi yang mampu menjadi jembatan emas yang dapat menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Jadilah generasi yang memahami bahwa kemerdekaan bukanlah warisan yang selesai diperjuangkan, melainkan amanat yang harus terus dijaga, dipertahankan, dan disempurnakan.
Jadilah pewaris perjuangan, bukan pewaris ketergantungan. Jadilah penjaga kedaulatan, bukan pelayan kepentingan yang menggerus kemerdekaan bangsa. Sebab bangsa yang merdeka adalah bangsa yang mampu menentukan jalannya sendiri, meskipun jalan itu penuh tantangan, risiko, dan pengorbanan.
Merdeka dalam pikiran, berdaulat dalam tindakan, dan setia pada Pancasila adalah jalan kaum muda revolusioner untuk menjaga Indonesia tetap berdiri tegak di tengah gejolak perubahan dunia.
(Isi diluar tanggungjawab Redaksi)







