Wartajavaindo.com
Semarang, 20 Juli 2026 – Gerakan Jateng Guyub akan menggelar aksi bersama selama tiga hari, mulai 22 hingga 24 Juli 2026, di Kantor Gubernur Jawa Tengah. Aksi ini akan diikuti oleh perwakilan masyarakat dari 28 kabupaten yang membawa beragam persoalan daerah sebagai bagian dari perjuangan bersama untuk menghadirkan keadilan sosial, perlindungan ruang hidup, serta keberpihakan kebijakan kepada rakyat.
Jateng Guyub lahir sebagai ruang konsolidasi masyarakat sipil Jawa Tengah yang menghimpun berbagai elemen perjuangan, mulai dari petani, nelayan, buruh, pegiat lingkungan, masyarakat adat, organisasi kepemudaan, komunitas desa, hingga kelompok masyarakat yang selama ini memperjuangkan hak-hak dasar warga. Gerakan ini dibangun atas kesadaran bahwa berbagai persoalan yang terjadi di daerah bukanlah kasus yang berdiri sendiri, melainkan memiliki benang merah berupa ketimpangan pembangunan, konflik penguasaan ruang hidup, kerusakan lingkungan, lemahnya perlindungan terhadap masyarakat, serta belum optimalnya pemenuhan hak-hak warga negara.
Koordinator Aksi Jateng Guyub, Joko Prianto, menjelaskan bahwa gerakan ini merupakan upaya menjahit kembali solidaritas antardaerah yang selama ini terpisah oleh batas administratif maupun ego sektoral.
“Persoalan yang dihadapi petani, nelayan, buruh, masyarakat adat, maupun warga perkotaan sesungguhnya saling berkaitan. Bentuknya mungkin berbeda, tetapi akar persoalannya sama, yaitu bagaimana rakyat mempertahankan ruang hidupnya, memperoleh keadilan, dan mendapatkan kesejahteraan. Karena itu kami membangun Jateng Guyub sebagai ruang perjuangan bersama, bukan sekadar forum aksi,” ujarnya.
Joko menambahkan bahwa selama tiga hari pelaksanaan aksi, berbagai delegasi daerah akan menyampaikan persoalan masing-masing secara terbuka kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Berbagai isu yang akan disampaikan meliputi konflik agraria, aktivitas pertambangan, kerusakan infrastruktur jalan, kriminalisasi warga, persoalan sektor pertanian, ketenagakerjaan, lingkungan hidup, pelayanan publik, hingga berbagai kebijakan yang dinilai belum berpihak kepada masyarakat.
Sementara itu, Koordinator Blora, Exy Wijaya, menegaskan bahwa kehadiran Jateng Guyub merupakan jawaban atas kegelisahan masyarakat Jawa Tengah yang selama ini merasa perjuangan rakyat berjalan sendiri-sendiri tanpa adanya ruang bersama yang mampu menyatukan kekuatan.
“Jateng Guyub lahir dari kegelisahan masyarakat Jawa Tengah. Dari Blora hingga daerah lainnya, persoalan yang dihadapi memang berbeda-beda, tetapi akar persoalannya sama, yaitu ancaman terhadap ruang hidup, ketidakadilan, kerusakan lingkungan, kriminalisasi terhadap warga yang memperjuangkan haknya, serta kebijakan yang sering kali belum berpihak kepada rakyat kecil. Karena itu, kami percaya bahwa perjuangan tidak boleh lagi berjalan sendiri-sendiri.”
Menurut Exy, masyarakat Jawa Tengah membutuhkan sebuah wadah yang mampu mempertemukan seluruh elemen perjuangan agar dapat saling menguatkan, berbagi pengalaman, serta menyusun langkah bersama dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.
“Jateng Guyub hadir sebagai rumah bersama. Rumah bagi petani yang kehilangan lahannya, bagi warga yang mempertahankan lingkungan hidupnya, bagi buruh yang memperjuangkan haknya, bagi nelayan yang mempertahankan wilayah tangkapnya, dan bagi seluruh masyarakat yang menginginkan keadilan. Kami ingin membangun solidaritas lintas daerah, karena kami percaya tidak ada satu pun masyarakat di Jawa Tengah yang seharusnya berjuang sendirian.”
Ia juga menegaskan bahwa aksi ini bukan ditujukan untuk menciptakan konflik, melainkan menjadi ruang penyampaian aspirasi rakyat secara damai, bermartabat, dan konstitusional.
“Kami datang membawa harapan, bukan kebencian. Kami datang membawa suara rakyat, bukan kepentingan kelompok tertentu. Kami ingin pemerintah mendengar langsung apa yang menjadi persoalan masyarakat di berbagai daerah dan menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada kepentingan rakyat.”
Seluruh rangkaian aksi akan dilaksanakan dengan mengedepankan prinsip damai, tertib, edukatif, inklusif, dan tetap berada dalam satu komando. Selain penyampaian aspirasi, kegiatan juga akan diisi dengan dialog publik, konsolidasi antardaerah, pendidikan rakyat, serta penguatan jaringan solidaritas masyarakat sipil di Jawa Tengah.
Melalui aksi ini, Jateng Guyub berharap terbangun komunikasi yang lebih baik antara masyarakat dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, sehingga setiap persoalan daerah dapat diselesaikan melalui dialog yang terbuka, penghormatan terhadap hak-hak warga negara, serta kebijakan yang berkeadilan.
Jateng Guyub meyakini bahwa perbedaan isu bukanlah alasan untuk terpecah. Sebaliknya, keberagaman persoalan harus menjadi kekuatan untuk saling menguatkan. Sebab guyub bukan berarti semua memiliki persoalan yang sama, melainkan kesadaran bahwa tidak ada satu pun sedulur di Jawa Tengah yang seharusnya memperjuangkan hak, keadilan, dan ruang hidupnya sendirian.
(JManik)







