31 Agustus 2025

wartajavaindo.com

LUGAS | CEPAT | TERPERCAYA

HARGA GANTI UNTUNG TAK LAYAK, Warga Menolak Lepas Lahannya Untuk Tol Semarang Demak

0 0
Read Time:4 Minute, 31 Second

DEMAK, WARTA JAVAINDO : Pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak (JTSD) sepanjang 27 KM, terancam tak bisa tepat waktu pengerjaannya. Pasalnya sampai saat ini masih ada permasalahan soal ganti untung tanah warga yang terkena dampak jalan bebas hambatan tersebut.

Ada 56 orang dari tiga Desa di Kecamatan Wonosalam, Demak yang mengaku keberatan soal nilai ganti rugi tanah yang dinilai tidak layak dan jauh dari standart harga lahan yang terkena proyek tol.

Kontruksi Jalan Tol Semarang Demak sepanjang 27 KM

“Janjinya, warga kami yang tanahnya terkena proyek jalan tol akan menerima ganti untung dengan standart harga yang telah ditentukan. Ternyata, ganti rugi yang diberikan jauh dibawah standart kewajaran lahan yang terkena proyek jalan tol. “ jelas Akhmad Kuwoso, Kepala Desa Karangrejo, Kecamatan Wonosalam Demak.

Kepada wartawan Opini Publik dan Warta Javaindo, yang menemui di rumahnya, Kuwoso mengatakan karena menilai belum ada kesepahaman soal harga ganti-untung tanah yang terkena proyek jalan tol tersebut, warga hingga kini  belum mau menandatangani surat persetujuan dana kompensasi lahan.

Sebagaimana diketahui pengerjaan proyek tol Semarang- Demak dengan panjang ruas mencapai 27 Kilometer ini telah dimulai sejak awal 2020 dan diperkirakan akan rampung pada 2022 mendatang.

Pengerjaan jalan tol dibagi menjadi dua seksi, pertama jalur Semarang – Sayung sepanjang 10,69 kilometer yang merupakan dukungan pemerintah. Sedangkan seksi kedua jalur Sayung – Demak sepanjang 16,31 kilometer merupakan tanggung jawab Badan Usaha Jalan Tol PT Pembangunan Perumahan Semarang – Demak

Tak Layak

Akhmad Kuwoso menambahkan, pada saat sosialisasi sebelum proyek dimulai, pihak kontraktor menjelaskan akan memberikan ganti untung kepada warga yang tanahnya terkena proyek jalan tol, yakni berkisar antara Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta/m2.

“Namun kenyataannya, kebanyakan warga kami yang hanya akan diganti ganti rugi di bawah Rp 500.000/M2. Bahkan ada yang hanya akan menerima Rp 220.000/ M2, tentu saja warga kami menolak”, tuturnya.

Menurut informasi yang diperoleh tim investigasi Warta Javaindo, ada warga di 56 orang warga dari tiga desa di Kecamatan Wonosalam, Kab. Demak yang masih menolak dana kompensasi yang akan diberikan oleh kontraktor.

Masing-masing di Desa Kendal Doyong ada 36 orang, di Desa Wonosalam ada enam orang dan di Desa Karangrejo ada 17 orang. Ketiga desa tersebut, keseluruhannya berada di wilayah Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak.

Mendapat keluhan warganya terkait kompensasi proyek jalan tol tersebut, Kuwoso mengaku bingung kemana dia harus mengadu. “Dalam menghadapi kasus ini, saya memang bingung harus mengadu kepada siapa. Tujuan kami, hanya meminta agar pihak kontraktor dapat memberikan kompensasi yang wajar atau sesuai janjinya pada saat sosialisasi”, tuturnya.

Para pemilik tanah yang terkena proyek sambungnya, sebenarnya merasa berat melepas tanahnya untuk dijadikan jalan tol. Sebab tanah-tanah tersebut rata-rata merupakan warisan leluhurnya yang nantinya juga akan diwariskan kepada anak cucu mereka masing-masing.

“Namun karena yang membutuhkan tanah tersebut adalah negara dan untuk kepentingan umum, maka para wargapun merelakan tanah warisannya untuk dijadikan jalan tol. Tapi hendaknya, kompensasi yang diberikan mestinya juga sesuai sesuai dengan pengorbanan mereka”, tandas Kuwoso.

Sementara Mukohar (warga Wonosalan) yang dihubungi Warta Javaindo menjelaskan, dia tidak mau tanda tangan disurat persetujuan ganti untung kompensasi lahan yang terkena proyek tol, karena harga belum sesuai atau jauh dari layak. Dikatakan harga ganti untung tanah miliknya dengan warga lain yang berada sama di tepi jalan tidak sama.

“Ada yang diberi harga Rp.2 juta/M2, sedang tanah saya hanya mau diganti-rugi Rp. 375 ribu/ M2.” jelas Mukohar. Selain soal harga tanah yang belum cocok, Mukohar  meragukan surat persetujuan yang diserahkan kepadanya itu benar-benar dari pihak kontraktor. ” Tulisan (ketikan) di surat itu hurufnya kecil-kecil, sulit dibaca meski menggunakan kaca mata. Lagian pula alamat di kop surat hanya di sebuah rumah, bukan kantor dari kontraktor yang nangangi proyek ” terang Mukohar.

Gubernur Jawa Tengah saat meninjau perkembangan pengerjaan jalan Tol Semarang Demak, di Seksi II Sidogemah, Sayung, Demak

Jadi Atensi Gubernur.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat meninjau langsung pembangunan jalan tol Semarang Demak- di Seksi II Sidogemah-Sayung Demak. Pembangunan fisik jalan tol Semarang-Demak yang menelan anggaran senilai Rp15,3 triliun tersebut ditargerkan selesai akhir 2021.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo sebelumnya menyatakan, masyarakat yang memiliki lahan tidak perlu khawatir, karena akan diajak bicara bareng masalah pembehasan lahan jalan tol Semarang-Demak.

Pembangunan jalan tol Semarang-Demak, lanjut Ganjar untuk memperlancar transportasi serta menyelesaikan beberapa bagian yang terkena rob di wilayah Semarang dan Sayung. “Sehingga desainnya dibuatkan tanggul laut untuk mengatasi rob,” kata dia.

Diakui oleh Ganjar masalah pembebasan lahan selalu menjadi kendala dalam setiap pembangunan. Tak terkecuali dalam pembangunan Tol Semarang-Demak.

Sebagai bentuk atensinya, orang nomor satu di Pemprov Jateng itupun turun tangan dengan meninjau langsung pembangunan Tol Semarang-Demak seksi dua di wilayah Sidogemah, Kecamatan Sayung, Kabupayen Demak, Selasa (26/1/2021) lalu.

Dengan turun ke lapangan, Ganjar ingin mendengar banyak masukan, terutama berkaitan dengan kendala lahan. Menurutnya, kendala pembebasan lahan selalu menjadi cerita dalam setiap pembangunan.

Oleh karenanya, Ganjar telah mengingatkan pada pengelola proyek dalam hal ini PT PP (Persero) Tbk untuk gencar bersosialisasi pada masyarakat.

“Perlu tim ada komunikator. Itu akan mengedukasi, desain besar akan ada dampak itu harus jujur disampaikan pada mereka,” kata Ganjar saat berbincang dengan perwakilan pengelola kontruksi Tol Semarang-Demak.

Saat disinggung persoalan sosial yang muncul akibat pembangunan Tol Semarang-Demak, Ganjar tak menampiknya. Namun, Ganjar memastikan bahwa pembangunan ini telah dihitung secara matang.

“Persoalan selalu ada, nggak ada yang mulus. Solusinya semua mesti harus disosialisasikan,” katanya. (02)

Pewarta : Khayan, Editor : W1D02

 

About Post Author

wartajavaindo.com

PT.WARTA JAVAINDO MEDIA INDONESIA. SK. KEMENKUMHAM: AHU.0051707.AH.01.01.TAHUN 2020. AKTA PENDIRIAN NO: 1, 1 OKTOBER 2020. NOTARIS: NINDYA NURSANTO, SH.MKn.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Bagikan :

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

925 thoughts on “HARGA GANTI UNTUNG TAK LAYAK, Warga Menolak Lepas Lahannya Untuk Tol Semarang Demak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *